‘Skill’ Kok Njiplak!

Beberapa hari kemarin, saya kembali dikejutkan oleh berita tentang seorang penulis yang melakukan plagiat pada 24 karya sastra. Sinting! Bagaimana mungkin ia bisa se-hilang akal itu? Bukankah sebagai seorang penulis –atau bahkan siapa pun manusianya — sejak awal mulai mengenal aksara, sudah pasti tahu bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Haram!

Yang lebih gila lagi, yang diplagiat itu adalah jenis cerpen sastra, yang kemudian dikirimkan ke beberapa media ternama Indonesia. Akhirnya, ada sebagian karyanya yang dimuat. Entahlah … ini sebuah kepintaran tingkat dewa bisa memilih dan memlagiat hingga 24 karya, atau justru kebodohan yang amat sangat.

Lebih mengejutlah lagi, melihat fakta bahwa plagiator ini adalah seorang penulis yang (katanya) sudah berkemampuan menulis dengan baik. Dengan profilnya waktu itu, seseorang yang digambarkan sebagai sosok sederhana dan pendiam.

Upaya seorang plagiat untuk menjadi penulis profesional yang mendapatkan pengakuan dari dunia literasi, tampaknya salah dipahami. Memplagiat karya orang lain sesungguhnya adalah upaya bunuh diri. Jika sudah begini, bukan masalah plagiator tersebut menyesal atau tidak. Bukan masalah ia berjanji tidak akan mengulangi atau tidak. Serta bukan masalah ia akan bangkit dari keterpurukannya akibat hujatan bertubi-tubi, atau tidak. Pertanyaannya, masihkah dunia percaya? Siapa yang akan percaya, karya yang ia tuliskan bukan hasil dari menjiplak?

Mengingatnya, membuat saya yang masih berjuang keras di dunia ‘ini’ serasa ditampar keras!

Namun, siapa sangka … penulis sekelas J.K Rowling dan Dan Brown pun pernah dihampiri dugaan melakukan plagiat. Dari Indonesia, sekelas Chairil Anwar pun pernah diduga menjiplak karya orang lain. Pada tahun 2010, penulis J.K Rowling disebut dalam perkara hukum yang menyebutnya mencuri ide untuk buku-buku Harry Potter-nya dari seorang penulis Inggris lainnya. Gugatan di salah satu pengadilan di London itu menyebutkan bahwa buku J.K Rowling yang berjudul Harry Potter and  The Goblet of Fire menyalin banyak bagian dari buku Jacob tahun 1987, The Adventures of Willy The Wizard-No 1 Livid Land.

Begitu pula yang terjadi pada Dan Brown. Novelnya yang berjudul The Da Vinci  Code dituduh melakukan plagiat atas novel berjudul The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Lee. Tuduhan lain juga muncul dari seorang novelis lain bernama Lewis Perdue, untuk salah satu novelnya yang berjudul Daughter of God.

Di Indonesia, penyair Chairil Anwar dituduh oleh Hans Bague Jassin, seorang kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia. Hans membandingkan karya puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Chairil menyanggah hal itu hingga ketegangan antara mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Hans sempat berkelahi.

Itu sebagian dari nama-nama penulis Indonesia yang terkenal. Lantas, bagaimana yang namanya tidak populer? Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bambang Trim,  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Pendiri Institut Penulis Indonesia, bahwa pernah dalam satu bulan, beliau sudah menerima tiga laporan tentang buku-buku rekan penulis yang diplagiat dalam bentuk buku lagi dengan judul yang mirip, atau paling tidak mengandung satu-dua kata kunci dari buku mereka.

Mental-mental plagiat ini memang harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, mengapa kenyataan ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah sulitnya melacak. Ada jutaan bahkan mungkin milyaran karya yang tersebar, dan masih terus bertambah setiap detiknya. Jika karya itu adalah sebuah foto atau lukisan, Anda hampir tidak mungkin untuk menjiplaknya. Tetapi jika tulisan, bagaimana Anda bisa menentukan originalitasnya?

Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide terbentuk dari pola pikir, cara pandang, dan hasil olah pikiran yang didapatkan dari mendengar, melihat, dan membaca ide orang lain. Jika memang demikian masih bisa dilakukan, mengapa Anda tidak memilih menjadi epigon saja dibanding menjadi plagiator? Epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Singkatnya, peniru seniman atau pemikir besar. Itu masih tidak masalah, jika dibandingkan dengan melakukan plagiat. Contoh karya yang banyak ditiru oleh penulis lain misalnya Ayat-Ayat Cinta. Pada awal kemunculannya, novel ini banyak ditiru. Banyak yang menuliskan kisah sejenis, bahkan cover dan nama penulisnya pun senada.

Lantas, apa bedanya kisah tuduhan yang dilayangkan pada novelis J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar dengan para plagiator recehan di Indonesia? Para penulis level dewa seperti J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar berhasil membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Bahkan mereka siap berperang di meja hijau demi membuktikan nama baik dan kredibilitas kemampuan mereka. Sedangkan di Indonesia, para plagiator kelas receh malah dengan bodohnya melakukan bunuh diri secara terang-terangan di perang terbuka.

Sumber Referensi :

  1. https://sains.kompas.com/read/2010/02/19/0405249/jk.rowling.digugat.melakukan.plagiat
  2. https://www.kompasiana.com/prasetyo_pirates/epigon-vs-plagiat_552e5e406ea83483568b456a
  3. https://www.kompasiana.com/bambangtrim/598272b557c78c462c121132/sontoloyo-plagiat-buku-merajalela
  4. http://sastranesia.com/arti-kata-epigon/
  5. http://www.plimbi.com/article/163307/tokoh-ternama-pernah-dituduh-plagiat

 

 

Advertisements

What’s Next in 30DWC Jilid 12 ?

Ya. Sudah sebulan sejak 30DWC Jilid 11 berakhir. Sekarang, masuk lagi hari pertama perang dimulai untuk 30DWC Jilid 12. Anggota Empire banyak yang berbeda, kawan Squad pun juga sudah tak sama. Rules secara teknis sebagian besar juga sama, hanya mungkin akan ada beberapa kejutan yang akan dilakukan di tengah-tengah periode tantangan.

Saya berpikir, apa yang akan saya lakukan di DWC Jilid 12 ini? Ketika semua kawan sudah berganti, begitupun semangat dari mentor untuk melakukan inovasi, apakah saya masih tetap sama? ”B-aja”, kata mentor saya. Jangan-jangan yang tidak berubah justru adalah saya. Jadi miris saya memikirkannya. Ini bukanlah perang melawan mereka, ini adalah perang melawan saya. Diri saya sendiri. Beranikah memulai?

Selama masa jeda antara DWC11 hingga DWC12, apa saja yang telah saya lakukan? Apakah seproduktif saat ikut DWC11? Ini akhirnya menjadi pertanyaan besar. Apakah saya selalu hanya terorientasi target? Semangat yang berapi-api itu karena saya punya target yang ingin saya capai. Jika tidak, maka terlenalah saya dengan segala alasan.

Maka dari itu, saya putuskan untuk ikut kembali di DWC12. Karena ternyata mental tempe saya, membuat saya belum membuahkan hasil yang saya harapkan. Tapi, ikut DWC12 lagi, lalu apa yang harus saya lakukan? Jawab pertanyaan besar ini dulu, begitu batin saya.

Sebelum melangkah ke sana, saya ingin menuliskan dulu, apa saja yang telah saya lakukan untuk aktivitas menulis, selama masa jeda. Antara lain :

  1. Mengambil project antologi

Ada tiga grup yang berencana akan membuat antologi. Cerpen teenlit remaja (fiksi), kumpulan eksperimen anak di bidang Fisika & Kimia (non fiksi), Cara menjadi orang yang lebih baik (non-fiksi). Ada beberapa lainnya, tetapi belum mendapatkan kepastian bagaimana tema dan ketentuan teknisnya.

  1. Revisi naskah-naskah antologi yang akan terbit

Dari dua yang akan terbit, yaitu tentang tema detektif cilik, dan genre thriller, sebagian harus saya revisi. Rencana akan diajukan ke penerbit major, dan editornya adalah salah satu editor penerbit major, sehingga lebih detail koreksinya. Di sini saya jadi banyak belajar tentang bagaimana membuat naskah yang lebih baik. Ada teknik-teknik yang harus saya pelajari lagi dengan lebih cermat.

  1. Belajar di kelas mentoring menulis

Ada kelas mentoring yang saya ikuti untuk belajar menulis lebih baik. Ada mentor yang akan membantu dalam proses saya bertumbuh. Sebenarnya, idealnya, kelas mentoring ini bisa saja tidak dilakukan. Artinya tidak akan menjadi wajib bagi seseorang. Asalkan ia punya kemampuan belajar sendiri yang luar biasa.

Hanya saja, bagi saya, kelas ini bukan hanya berperan sebagai kelas belajar, tetapi saya jadikan sebagai salah satu ‘pintu masuk’. Di kelas-kelas ini sudah terkumpul kawan-kawan baru, yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Saya bisa masuk ke dalam komunitas untuk memperoleh ilmu lebih banyak dan cepat.

  1. Mengikuti tantangan menulis 7 hari non stop, bernama GTC

Satu lagi, tantangan menulis yang ingin saya rasakan. Saat itu, ada seorang kawan yang menyarankan untuk ikut GTC. GTC adalah pintu gerbang untuk menuju ke grup menulis bernama YWC (Young Writers Club), di mana syaratnya adalah menulis 7 hari tanpa jeda. Namun, yang paling membuat saya semangat adalah, di dalam grup YWC tersebut ada seorang mentor menulis cerpen sastra media yang sangat hebat, bernama Ongky Arista. Tidak mudah untuk bisa menemuinya.

Beliau memang hanya berstatus sebagai anggota di YWC, tetapi akan membuka kelas sendiri untuk beliau mentori. Ini yang paling membuat saya rela menempuh perjalanan jauh, meskipun status saya sampai saat ini masih berdiri di depan rumah beliau, menunggu dibukakan pintu. Tapi saya akan menunggu, demi kesempatan itu.

  1. Mengevaluasi Draft Novel

Ada sebuah draft yang saya pernah tuliskan. Hasil dari pertarungan saya di lomba menulis novel. Ada tujuh tahapan seleksi yang harus saya lalui. Saat itu, belum untuk bertarget menang, tetapi lebih kepada ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, sebagai pemula. Akhirnya, saya kalah di tahapan seleksi ke-4. Namun selama itu, saya  jadi bisa memperoleh sedikit gambaran mengenai tahapan seleksi oleh editor. Banyak yang memang harus saya perbaiki. Di waktu jeda inilah, saya sesekali melihat kembali ke draft lama saya, dan melakukan evaluasi.

Stres juga ternyata. Merevisi karya sendiri, menimbulkan rasa yang lebih berat dibandingkan dikoreksi orang lain. Selain harus membacanya berulang-ulang, rasanya juga seperti selalu saja ada kesalahan. Selalu saja ada yang kurang pas. Apalagi jika menemukan sebuah celah, atau alur yang ingin saya ubah. Tapi, bukankah itu sama saja akan mementahkan naskah jadi seperti awal lagi? Tidak mudah menjadi ingin sempurna, sungguh.

  1. Bergabung di komunitas WIFI Jakarta

Setelah berhasil melalui tantangan menulis di 30DWC Jilid 11, maka saya diijinkan untuk masuk ke grup alumni yang dibagi dalam Region, sesuai domisili. WiFI (Writer Fighter Indonesia) namanya. Saya bergabung ke dalam Region Jakarta. Di sana, bertemu kembali dengan para penulis yang sudah lebih senior, sudah lebih banyak karyanya. Wow!

Di sini, diberlakukan peraturan untuk OWOP (One Week One Post), artinya harus menyetorkan tulisan minimal satu tulisan setiap minggu. Hal ini dilakukan untuk membuat fighters tetap aktif menulis, meskipun hanya satu tulisan saja dalam seminggu. Sekali lagi, lingkungan bertumbuh yang kondusif berperan penting untuk menjaga semangat penulis. Tidak harus, tapi itu sangat membantu.

(bersambung)

Setitik Nila, Dalam Susu Sebelanga

“Pak, rumah Anda terbakar!!!” suara satpam perumahan terdengar dari ujung telepon, menghentikan laju mobilku ke arah kantor yang berjarak 45 menit dari rumah.

“APA??” ucapku kaget hingga hampir menabrak mobil di depan. Segera kupinggirkan mobil, dan kulanjutkan pembicaraan.

“Ya, halo. Terbakar??? Saya pulang sekarang!!” ucapku sambil memutar setir, dan kembali ke rumah.

Aku shock! Gelap. Kulajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari setengah bagian, bagai kesetanan. Berlari dengan sangat tergesa, hingga kubanting saat menutup pintu mobil yang kuparkir di luar kerumunan orang.

Ramai. Petugas pemadam kebakaran sudah sibuk di tengah usaha pemadaman. Para tetangga membantu. Sebagian mengambil air dari rumah-rumah, sigap menyalurkan dengan ember-ember maupun selang.

Aku terbelalak kaku. Gemetar hingga tak bisa kurasakan ujung kakiku. Sejenak terhuyung sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang.

“Pak, rumah bapak terbakar. Baru saja, tapi api sudah menjalar sedemikian cepatnya.” jelas Sarip, pemilik bengkel motor di seberang rumah.

“….” hanya kutengok wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari kejauhan, kulihat api masih besar, melalap sebagian kamar depan. Asap sudah membubung tinggi dan tebal.

Kulihat ada batu cukup besar di bawah kakiku. Mau kuapakan?

Ingin rasanya kuhantamkan ia ke kepalaku. Mencoba mati, atau ingin menyadarkanku dari mimpi. Detik ini masih tak bisa kupercayai, tentang apa yang kualami.

Logikaku sebagai laki-laki bicara, “Gila kau, masa mau mati. Duduk saja dulu di situ, lepas sepatumu, dan bantu mereka memadamkan api itu.” Begitu sarannya.

Oke, akhirnya aku kembali ke dunia nyata. Duduk, dan berpikir. Apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga bisa terjadi kebakaran ini? Seingatku, tak ada aku menyalakan kompor pagi ini. setrika? Tidak mungkin … semua sudah kumatikan sebelum berangkat.

“Yaa Tuhan … Dona!!” tiba-tiba aku tersentak kaget, mengingat apa yang terjadi pada kucingku, di mana dia sekarang.

Segera aku berlari, menyibak kerumunann orang. Mendekati rumahku yang sebagian kamar depan sudah berwarna gelap menjadi arang.

“Dona! Dona!” panggilku ke sekeliling. Mencari tahu di manakah Dona kucingku bersembunyi. Rasa takut dan sedih menyelinap. Takut untuk kupikirkan, dan takut untuk kurasakan.

Hening. Tak ada suara Dona yang biasanya selalu Miaaww ketika kupanggil. Dona, sekitar empat hari lalu baru saja kuadopsi dari seorang kawan.

***

“Tak mampu mengurusnya. Kau bawa saja ia pulang,” katanya yang punya 24 ekor kucing peliharaan di rumahnya.

“Ya … tapi gimana nih makannya? Mau gak dia makan ikan asin campur nasi seperti kucing kampung itu?”

“Ikan asin? Mana dia mau. Aku kasih makan dia ikan tongkol, seminggu 3 kali. Selebihnya kasih makan yang di pet shop itu bisa. Yaa paling 200 ribu cukup lah kau untuk kasih makan dia seminggu. Muraah.” kata kawanku setengah membujuk.

“Haah, tongkol? Gaya juga ya kucing sekarang. Makanan di pet shop? Astaagaaa … makanan kucing pun sudah made in America punya.” Nada bicaraku yang kaget membuatnya tertawa.

“Ahh … malas ahh! Aku tak sempat juga mengurusnya.” tolakku saat itu, sambil menatap tingkah polah Dona yang naik-naik ke atas kursi ruang tamu.

“Kalo gitu, ya sudah. Nanti biar kujual saja. Aku punya sembilan nih yang jenisnya sama dengan Dona. Bosen.” jelas kawanku, sambil siap membagikan tongkol yang sudah dicampurnya dengan nasi.

Gila, pikirku. Rumah ini lebih mirip rumah kucing dibandingkan dengan rumah manusia. Pikiranku membaca dari apa yang kulihat dari lensa mata.

Kutatap Dona saat itu. Bulunya yang tebal,  berwarna coklat muda, halus, dan polos sejenak membuatku terkesima. Tampaknya ia kucing yang manis. Tak terlalu merepotkan, jika kurawat dia. Toh hanya satu ekor, tak terlalu pusing aku nantinya.

Sejenak pandanganku beralih ke sebagian kucing yang tiduran anteng di kotak-kotak sejenis kardus.

“Ehm … itu mereka tidurnya di situ ya? Kalo malam apakah pindah ke kandang, atau tidur di situ saja?” tanyaku. Dona tampak asik memainkan bola kuning dengan kaki depannya.

“Oh yaa … mereka suka tidur di situ. Dulunya aku masukkan kandang dan rumah-rumahan. Tapi mereka sepertinya lebih suka di situ. Ya sudah, kubiarkan.” Jawab kawanku sambil terus membagikan tongkol di piring ke-12. Kucing-kucing lain mengerumuni kakinya, meminta jatah. Padahal piring-piring sudah diisi dengan makanan, tetap saja mereka berebut meminta. Tapi aneh, Dona tak terlalu peduli dengan itu. Ia masih sibuk bermain bola.

Kulihat lagi Dona, kupikir-pikir lagi. Apakah sebaiknya memang kubawa ia pulang? Tampaknya aku akan suka. Dalam hati, aku menyepakati. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan “iya”.

***

“Pak, ini kucing Anda?” suara serak dari belakang membuyarkan lamunanku.

“Ohh … iya, Pak. Terima kasih, Pak. Saya mencarinya ke mana-mana.” Jawabku pada Pak Asep, tetangga dari rumah pojok sebelah kanan blokku.

Kulihat ke arah rumahku, tampaknya api sudah reda. Dalam kalutku, masih ada yang bisa kusyukuri. Yang terbakar hanya kamar depan. Artinya malam ini, aku masih bisa tidur di kamar belakang. Dan yang terpenting, Dona selamat, pikirku.

Hampir sepanjang sisa hari itu, aku dibantu oleh warga, membereskan bekas kebakaran. Kulihat ke arah jam dinding yang masih menggantung di atas ruang makan,

23.43 … hampir tengah malam.

Kucoba untuk membaringkan tubuhku yang sudah tak punya tenaga ini. Kuangkat Dona dari lantai, dan kunaikkan dia ke atas kasur tidur kami.

Ya, rumah kotak kardusnya memang sudah kubuang ke perapian dua hari lalu. Baunya sungguh tidak enak. Sepertinya itu bau sisa air kencing Dona dan bekas makanannya yang tercecer. Tapi sekarang, Dona punya tempat baru yang lebih nyaman. Tidur di kasur empuk, di ujung ranjang ini. Setiap malam ku taruh dia di situ. Agar hangat, begitu pikirku.

***

Rasa perutku tiba-tiba tak enak. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi di tengah malam buta. Aduhh, sungguh malas lah aku urusan begini. Beberapa kali, aku berusaha menepiskan rasa, menggeliat ke kiri, lalu ke kanan lagi. Tapi rasa dalam perut semakin tak kuasa untuk kutahan. Sedikit kubuka mata, mencari-cari ini sudah jam berapa. Apakah sudah pagi, atau masih lama aku menanti matahari?

Namun, mataku tiba-tiba terpaku pada sesuatu.

DONA. Berdiri di dekat jendela. Berdiri. Dia berdiri.

Apa itu di tangannya?? Ku coba memicingkan mata agar tampak lebih jelas apa yang kulihat.

Korek api..??

HAHHH!! KOREK API!

Sebelum ku tersadar sungguh, ku lihat Dona menggesekkan korek api itu, dan … menyala!

“DONA!” Ku panggil ia, keras!

Ia menoleh ke arahku, menyeringai dalam senyumnya yang manis tapi bengis. Tangannya justru dengan sengaja malah menyulutkan api itu, ke tirai warna putih kelabu yang menggantung.

“DONA!” Aku masih memanggilnya. Masih tak percaya pada apa yang ku lihat. Kali ini aku dibuat tak percaya juga pada apa yang kudengar.

“Rasakan, Kau! Sekarang kau akan tahu, bagaimana rasanya kehilangan rumahmu. Kenanganmu juga akan mati di sini, bersama ragamu.” Bisik Dona pelan, tapi masih sanggup kudengar.

Aku terdiam, kaku. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan.

Dona …. Hanya itu yang sanggup kubisikkan pada hatiku. Mataku hanya menatap kosong ketika Dona melompat keluar jendela, menembus gelapnya malam.

Api mulai merambat, menjalar membakar ruangan.

Aku masih juga terpaku di situ beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar harus keluar dari ruangan ini.

Segera kusingkapkan selimut yang masih membungkus kakiku untuk berlari ke arah pintu.

Klek … klek … klek …

Apa ini? Kenapa tak bisa kubuka?? Pintunya terkunci!

Wuzzzzz … Angin panas menyapu punggungku. Saat itulah baru aku tahu, rasanya dijemput maut yang selalu kutakuti sejak dulu.

Sekilas ingatanku melayang pada seorang kawan di sudut kota, pemilik Dona sebelumnya.

Rasaku, Dalam Rasamu

Sent….

Done! Pikirku. Sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman untuk lolos seleksi tahap Outlining. Ya, ini adalah project pertama dan terbesar yang pernah aku ikuti sampe saat ini. Project Kompetisi Kepenulisan Novella yang diselenggarakan salah satu penerbit di Indonesia.

Beberapa waktu terakhir ini, aku memang sedang memfokuskan diri untuk belajar dalam dunia kepenulisan. Bukan tidak sengaja tiba di sini. Namun, aku memang sengaja meminta kepada Allah untuk membuatku bertemu dengan dunia penulis, seperti mimpi masa kecil dulu.

“Yaa Allah … Aku ingat, bahwa dulu saat aku masih SD, aku bermimpi bisa menjadi seorang penulis.” curhatku pada Allah di suatu malam. “tapi aku tak tahu caranya, yaa Allah. Apakah dalam kehidupanku yang sekarang, diri ini masih punya kesempatan untuk melanjutkan mimpi?” tanyaku dalam doa waktu itu.

“Jika memang masih Engkau berikan kesempatan untukku, aku pasti akan sangat bahagia dan bersyukur pada-Mu. Akan kujalani kehidupanku sebagai penulis seperti yang kuimpikan lebih dari dua puluhan tahun yang lalu.” Lanjutku dalam doa, sekaligus berharap jawaban dari Allah.

Masih kuingat dengan jelas doaku itu, dan sekarang, aku di sini. Bersama dengan deadline yang menunggu. Pertama kali aku mengakrabkan diri dengan dunia penulis ini, rasanya masih seperti meraba-raba, hingga kini aku bertemu dengan kompetisi ini.

Melihat kompetisi ini membuatku ragu sekaligus tertarik. Ragu karena sudahlah tentu tak akan mungkin diriku menang, mengingat sama sekali belum memahami teknik kepenulisan. Namun, ini adalah salah satu cara yang paling cepat untuk belajar, begitu pikirku. Akhirnya ku bulatkan tekad untuk mengikutinya.

Akhirnya hari ini ku kirimkan juga materi untuk seleksi tahap awal, yaitu Outline. Dan segera keesokan harinya, aku dinyatakan lolos seleksi.

Begitu girangnya, dan sangat bersemangat untuk memulai menggarap naskah novel pertamaku. Ya, sampai di tahap awal ini membuatku yakin bahwa aku mampu juga untuk lolos di seleksi tahap berikutnya.

Setiap tahapan seleksi hanya diberikan waktu selama satu minggu untuk menuliskan naskah untuk disetorkan. Dari hasil outline yang aku buat, tertulis ada sepuluh bab yang harus kuselesaikan dalam enam tahap seleksi. Itu artinya rata-rata satu hingga dua bab harus kuselesaikan dalam seminggu sebagai materi yang diseleksi.

Setelah lolos tahap Outlining, sekarang mulai kubuat naskah untuk seleksi awal yaitu Bab I dan II saja dulu. Sebenarnya cukup mudah, hanya saja sulit sekali untuk mencari waktu dan fokus dalam suasana yang dibangun.

Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali langsung kucari pengumumannya di Facebook.

Yeaaayyyy!! Aku lolos seleksi tahap 1. Semakin optimis aku untuk maju di tahap berikutnya. Selanjutnya adalah seleksi tahap ke-2. Sekali lagi, aku dianggap masih cukup bisa meneruskan perjuanganku di sini.

Keesokan harinya,  di daftar pengumuman tertulis namaku untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu tahap 3. Woow! Luarrr biasa, pikirku. Dengan penuh semangat, aku kirimkan materi untuk dikoreksi di tahap ke-3. Kembali, pagi-pagi aku bergegas untuk mengecek apakah namaku ada di salah satu nama peserta yang lolos. Tapi, ternyata kabar yang kuterima tak sesuai yang kuharapkan. Di tahap ke-3 inilah aku dinyatakan tidak lolos. Sedih, dan merasa gagal.

Namun, ya itulah kenyataan yang harus aku hadapi. Bahwa inilah kompetisi. Pasti semakin lama, semakin sulit dan memang harus ada yang tereliminasi. Aku memang sedih karena mimpiku untuk segera bisa membuat buku sendiri pupus di sini.

Dalam kesedihanku, rasa kecewaku, maka aku pun mulai bisa mengingat kembali apa tujuan untuk mengikuti kompetisi ini. Sewaktu di awal, aku hanya ingin menjajal kemampuan menulisku. Sejak awal sudah jelas, bahwa aku hanya ingin mengetahui dan juga mendapatkan ilmu tentang kepenulisan. Namun di atas semua itu, aku bahagia. ‘Rasa’ yang ingin kuungkapkan dalam novel , mungkin masih belum sebaik peserta lain, atau belum sesuai standar ‘rasa’ yang kau harapkan. Tetapi, sekarang aku tahu di mana posisi kemampuanku. Semoga suatu hari nanti, ‘rasaku’ bisa berhasil mengetuk pintu ‘rasamu’.