Tak Semua Masa Lalu Harus Dilupakan

Masih tentang cerpen. Dunia menawan yang menarik untuk dipelajari. Dalam belajar tentang cerpen, menganalisis, serta menyimpulkan sebuah cerpen sastra, maka saya diminta untuk membaca dan membedah banyak sekali karya penulis sastra.

Salah satu yang saya pelajari adalah cerpen milik Budi Darma. Beliau adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Surabaya yang sudah banyak sekali membuat karya.

Cerpen tersebut judulnya Tarom. Tarom ditulis Budi Darma dengan gayanya yang khas. Diksi dan plotnya membuat kita seolah sedang terbang, mengunjungi satu negara ke negara lain. Namun, ada satu hal yang menjadi catatan saya. Cara Budi Darma, membuat kita terpaksa belajar masa lalu.

Masa lalu apa yang dituliskan Budi Darma? Budi Darma menyuguhkan sebuah kisah, dengan fakta-fakta masa lalu sangat terasa. Masa lalu di sini artinya adalah sejarah, atau sesuatu yang pernah terjadi di masa sebelum sekarang. Dalam tulisan-tulisan beliau,  pembaca secara tidak langsung diminta untuk melakukan riset.

Dalam cerpen Tarom tersebut, pembaca diajak belajar tentang masa Perang Dunia, Perang Indonesia dengan Malaysia dengan slogannya yang terkenal Ganyang Malaysia. Juga cerita antara Monalisa dan Leonardo Da Vinci. Semua dikemas secara apik, menjadikan cerita masa lalu itu indah untuk dinikmati.

Ya, banyak sekali di antara kita, manusia Indonesia khususnya, yang tidak peduli pada masa lalu negara ini. Masa lalu itu kita namakan sejarah. Sebuah bangsa yang hebat, adalah bangsa yang menghargai sejarah. Baik dan buruk, kelam, tetapi semua cerita masa lalu itulah yang membuat kita semua berdiri di sini.

Apakah kita harus menunggu selevel Master Budi Darma dahulu untuk bisa tergerak belajar masa lalu? Seharusnya kita justru bisa mencontoh dari beliau. Usia yang tak lagi muda, tetapi memiliki pemahaman dan pengetahuan seluas itu. Pasti ketertarikan pada sejarah, mempelajarinya, dan menuangkannya pada karya sastra sudah beliau lakukan sejak masih muda. Jangan melupakan masa lalu yang bisa memberikan arti bagi masa depan. Tak semua hal harus dilupakan.

Advertisements