Manusia Dalam Pusaran

Lebih dari lima tahun yang lalu, sekitar Desember 2012, sebuah kota bernama Ghouta Timur menjadi sebuah wilayah yang tidak memiliki akses keluar untuk banyak hal, termasuk kesehatan dan makanan.

Ghouta Timur, sebuah daerah seluas 104 kilometer persegi, 10 kilometer sebelah timur pusat kota Damaskus, ibu kota Suriah. Saat ini, Ghouta Timur adalah daerah yang berada di bawah blokade rezim Bashar al-Assad. Presiden Suriah saat ini, yang merupakan anak dari Presiden Suriah sebelumnya, Hafizh al-Assad, yang memerintah tahun 1971-2000.

GHOUTA-TIMUR-1

Berita yang kembali memenuhi banyak headlines dan viral hampir di seluruh dunia, tentang ‘neraka’ di Ghouta Timur, sebenarnya bukanlah hal baru. Ini adalah rangkaian dari kisah perang yang terjadi di Suriah sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu. Sungguh tidak mudah mengulik kisahnya, dan menyajikannya dalam bahasa yang lebih sederhana. Apalagi mengurai masalah, yang sudah sangat rumit untuk ditelaah.

Dari seluruh paparan kisah, salah satu yang menarik adalah tentang tokoh Bashar al-Assad, Sang Presiden. Daftar jejaknya menuliskan, Assad adalah lulusan sekolah kedokteran di Universitas Damaskus pada tahun 1988. Assad memulai karir dengan bekerja sebagai dokter di Angkatan Darat Suriah. Empat tahun kemudian, ia mengikuti studi pascasarjana di Rumah Sakit Mata Barat di London, yang mengkhususkan diri pada Optalmologi, salah satu spesialisasi ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit mata.

Optalmologi merupakan salah satu bidang kedokteran yang tidak biasa dan nyaris semua dokter yang mengambil spesialisasi ini adalah ahli di dua bidang mereka, yaitu bukan  hanya spesialis mata, akan tetapi juga dokter bedah yang sangat terampil. Optalmologi melakukan tes-tes yang rumit pada mata, dengan mendeteksi masalah pasien, kemudian meresepkan pengobatan. Sebagai dokter bedah, dokter yang mengambil bidang ini akan melakukan pembedahan rumit dan sulit untuk memperbaiki penglihatan pasien.

Karena kakaknya meninggal dalam kecelakaan mobil, Assad dipanggil kembali ke Suriah untuk menjadi ‘pewaris tahta’. Assad masuk ke dalam Akademi Militer dan mengambil peran dalam pendudukan Suriah atas Libanon, pada tahun 1998. Pada tanggal 10 Juli 2000, Assad terpilih menjadi presiden, menggantikan ayahnya yang meninggal. Assad terpilih kembali menjadi Presiden, pada tahun pemilihan berikutnya, yaitu 2007, dan 2014, hingga sekarang, melalui referendum. Banyak tulisan mengenai ‘ketidakpercayaan’ dalam hal ini, tetapi pada akhirnya Assad tetap berkuasa hingga, dan sudah memimpin hampir 18 tahun lamanya.

Suriah awalnya adalah negara demokratis. Lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, pasti diwarnai protes dan demonstrasi. Kekecewaan akhirnya memicu adanya pemberontakan oleh kelompok-kelompok militan di berbagai wilayah untuk melawan pemerintah. Hal itu akhirnya membuat pemerintah Assad melakukan upaya perlawanan dan pembersihan pada pemberontak. Masalah menjadi semakin rumit ketika beberapa pihak luar yang memiliki kepentingan tertentu, ikut campur dan masuk ke dalam perang tersebut, seperti Iran, Turki, Rusia, dan Amerika Serikat.

Saat ini, Ghouta Timur, seperti halnya Aleppo, menjadi salah satu daerah yang menghadapi badai krisis kemanusiaan terbesar abad ke-21. Pemerintah Assad menganggap bahwa Ghouta Timur menjadi sarang pemberontak, sehingga memblokade wilayah tersebut dan melakukan berbagai macam serangan untuk menumpas pemberontakan pada pemerintahan Assad.

Namun, Ghouta Timur adalah sebuah wilayah yang dihuni oleh sekitar 400 ribu warga sipil, yang setengahnya terdiri dari anak-anak. Serangan rezim Assad yang membombardir wilayah mereka dengan  senjata kimia, mortar, bom barel, dan sejumlah jenis bom lainnya justru menimbulkan konflik kemanusiaan yang dikecam oleh masyarakat dunia.

Sejak awal perang, rezim tersebut telah meluncurkan 46 kali serangan kimia ke Ghouta Timur. Lebih dari 1.400 warga sipil tewas dalam pembantaian yang  terjadi pada 21 Agustus 2013. Tahun ini, tercatat rezim Assad telah menggunakan tiga kali gas klorin di daerah tersebut.

Selama lebih dari lima tahun hidup dalam blokade, pasokan makanan dan kesehatan telah berhenti sekitar satu tahun yang lalu. Bayi, anak-anak, dan pasien meninggal karena tidak mendapatkan perawatan medis dan gizi yang cukup.

Hingga saat ini, rezim Assad mengklaim bahwa tindakan ini dilakukan untuk memerangi terorisme di Ghouta Timur.  Rezim Assad menganggap, para teroris di Ghouta Timur menggunakan warga sipil sebagai tameng, serta menargetkan ibu kota Damaskus dengan rudal.

Namun, pernyataan tersebut kontradiktif dengan hasil laporan wartawan Inggris, dan koresponden veteran Timur Tengah, Robert Fisk, yang mengatakan bahwa sebuah rekaman dari Ghouta, tidak memberikan penjelasan sama sekali bahwa orang-orang ‘bersenjata’ itu ada, dan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah. Ada masalah apa di balik pemberitaan-pemberitaan yang sampai di telinga kita saat ini? Apakah ini adalah konspirasi global untuk sebuah penciptaan kolonialisme baru?

Masih sangat jauh bagi kita untuk bisa mengurai itu. Namun, ada satu hal yang saya anggap ironis. Sebuah negara, sejatinya adalah sebuah sistem kehidupan yang berlangsung bagi rakyatnya. Rakyat memiliki hak-hak untuk hidup damai, dan saling menghormati. Negara, diwakili oleh pemerintah, dalam ini Presiden, adalah simbol dari pemimpin yang mengayomi, bukan manusia yang menguasai. Presiden, sebagai kepala negara, diberikan tanggung jawab tertinggi oleh rakyat, untuk mengatur, dan memastikan pelaksanaan kewajiban, dan hak-hak rakyat diterima oleh semua rakyatnya.

Jika kita melihat apa yang terjadi di Amerika, sangat ironis jika dibandingkan dengan yang terjadi di Aleppo, Ghouta Timur, atau juga suku Rohingya. Di Amerika, sering sekali kita melihat film-film heroik, kisah superhero yang selalu sigap untuk menyelamatkan warga kotanya. Kadang juga, kita melihat seorang Presiden yang memilih untuk mati bersama warga kota, daripada menyelamatkan diri sendiri dari serangan alien. Bahkan juga, tampak adegan-adegan heroik para polisi Amerika yang melakukan berbagai macam usaha penyelamatan sandera dari para pelaku teror. Dengan sikap tegas, Sang Presiden tetap memerintahkan, selamatkan, jangan sampai ada korban, meskipun satu nyawa.

Sungguh ironis, ketika ada sebuah negara, dipimpin seorang Presiden, begitu luar biasa bisa melakukan tindakan di luar akal sehat dan nurani kemanusiaan. Terlebih ketika menilik latar belakangnya sebagai seorang dokter, pejuang kehidupan. Tak bisa membayangkan, bagaimana caranya bisa makan dan tidur dengan nyenyak di antara lautan darah dan tangis rakyatnya?

Entah sampai kapan konflik ini akan berlangsung. Namun, kita sebagai rakyat yang memiliki kecintaan pada tanah air Indonesia, seharusnya tetap bisa mengambil hikmah dari kejadian yang nyata. Pantaskah jika kita, yang disatukan dalam Bhineka Tunggal Ika, lantas melakukan tindakan yang justru memecah persatuan dan kesatuan bangsa? Ingat, sejak nenek moyang yang (katanya) seorang pelaut itu, kita sudah bersaudara.

 

Sumber Referensi :

1. http://aa.com.tr/id/dunia/apa-yang-terjadi-di-ghouta-timur/1070212

2. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Oftalmologi

3. https://www.google.co.id/amp/s/fokustoday.com/2018/02/25/media-barat-dan-fakta-dalam-kasus-ghouta-timur-suria/amp/

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bashar_al-Assad

5. https://www.google.co.id/amp/s/www.islampos.com/amp/10-fakta-tentang-ghouta-timur-73059

6. https://www.google.co.id/amp/s/www.voaindonesia.com/amp/4137427.html

7. http://www.datdut.com/bashar-assad/

Advertisements