Ketika Asa Diberkati Semesta

Kemana saja aku selama ini ….

Pertanyaan itu kadang menghampiri pikiranku, di sela-sela hari. Banyak sekali yang baru kutemukan di usia ini, dan itu membuatku jadi baru saja memulai.

Aku kadang berpikir, bahwa dalam hidup ini, yang paling berat bukanlah menemukan mimpi. Tapi membangun dan memperjuangkannya hingga nanti.

Kadang, dalam hati juga aku bertanya, apa yang kusebut sebagai mimpi? Pernahkah aku bermimpi? Jika pernah, apa, dan sudah sampai di mana perjalanannya.

Dalam sendiri, aku coba bertanya suatu kali. Aku menyadari bahwa ternyata lebih mudah untuk mengikuti mimpi manusia lainnya, dibandingkan bermimpi sendiri, lantas memperjuangkannya.

Pertanyaan selanjutnya, untuk apa? Untuk siapa? Dan, bahagiakah?

Hingga datang suatu masa, di mana aku teringat kembali pada apa yang pernah kukatakan, sekitar 20 tahunan lalu pada ibuku. Waktu itu, kutulis sebuah cerpen pertamaku. Kisah seorang gadis yang tak mampu mengungkapkan isi hatinya, pada laki-laki yang dicintainya. Hanya bisa memandang dari kejauhan, dan menikmati senyumnya yang terpancar.

Apakah itu kisah nyata? Haha..

Kuingat saat itu, begitu sulit kulukiskan apa yang ingin kukatakan ke dalam sebuah cerita. Bayangan yang membayang, ide yang berputar, tak mampu kutuliskan dalam barisan kata. Lalu apa akhirnya? Cerpen itu berakhir dalam ending yang sangat biasa.

Kudengar suara ibu memanggil dari ruang makan. Memintaku beranjak dari kamar, yang ternyata telah kudiami sejak beberapa jam berjalan. Sebuah cerpen, dengan cerita biasa, dan ending yang sangat biasa juga. Tidak mengesankan.

Lalu aku berpikir. Kenapa cerita cinta harus selalu menyedihkan? Bukankah banyak juga yang berakhir dengan kebahagiaan? Aku sendiri, bagaimana akan berakhir? Tak bisa ku jawab saat itu juga tentunya.

Aku merenung, kenapa tak kuciptakan sendiri imajinasiku? Bahwa meskipun tak tahu jalan kisahku, kubisa membuat sebuah akhir yang sesuai mauku. Dalam siratan kata di buku-buku.

Kudengar ibuku memanggil lagi, untuk yang kedua kali.

“Iya, Bu … tunggu, sebentar lagi. Silakan makan saja dulu, aku menyusul.” sahutku yang masih tenggelam dalam pikiran.

Kuputuskan mengetik satu lembar putih lagi. Namun, ada yang berbeda kali ini. Kisahnya bukan sebuah curahan hati, tetapi sebuah motivasi. Motivasi untuk tetap mencintai, motivasi untuk tetap menunggu pujaan hati, suatu hari akan datang memberikan hati.

Haha … sungguh, masih sangat kekanak-kanakan, bukan? Maklum aku masih anak putih biru waktu itu. Di mana masalah terbesar adalah cinta yang tak terbalaskan. Ehm … benarkah itu hanya masalah anak-anak? Atau hingga kapan pun, kisah cinta sejenis itu akan tetap selalu memilukan? Hiks ….

Tiba-tiba pintu diketuk, “Ayo, makan dulu, nanti dilanjutkan lagi.” ucap ibuku dari balik pintu.

“Oh ya, Bu. Sudah selesai, kok.” sahutku sambil membuka pintu dan menemui ibuku.

“Menulis? Tentang apa?” tanya ibuku sambil mengikuti langkahku dari belakang menuju ruang makan.

“Bu, aku ingin menjadi penulis. Suatu hari nanti, aku bisa kan jadi penulis? Tapi aku ingin bukuku nanti adalah kisah-kisah yang membuat orang semangat. Penuh motivasi. Gimana?” sahutku menjelaskan sambil mengambil nasi untuk kutaruh di piring.

“Ibu doakan, aamiin. Boleh saja, apapun yang kau mau, lakukan. Ibu percaya, kamu bisa.” Jawab ibuku sambil duduk di kursi sebelahku.

***

Waktu berlalu, ke masa-masa di mana aku harus mengejar banyak hal yang orang lain bilang bisa menjanjikan kesuksesan. Aku sekolah, lantas kuliah, dan mulai bekerja. Ku lupakan apa yang pernah kukatakan pada ibu saat remaja. Dan ketika tersadar, aku sudah di sini. Di usia ini. Di detik ini. Tanpa pernah melakukan apa-apa pada asa yang sempat kuteriakkan pada dunia.

Aku muali berpikir kembali, apakah itu yang disebut panggilan hati? Apakah itu yang kuyakini sebagai mimpi? Tapi, sudah terlambatkah untuk memulai? Apakah masih bisa kulanjutkan, apa yang kuinginkan puluhan tahun silam? Lalu, dari mana aku harus memulainya? Kawan? Tak banyak yang punya asa seperti yang kupunya. Lingkungan sekitar? Tak ada yang akrab dengan dunia menulis juga.

Sungguh, aku tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaanku sendiri itu.

Ada satu titik, di mana aku benar-benar meminta pada Tuhan, apa jawabannya. Ku ingin Dia tunjukkan, jika memang itu membuatku jadi manusia yang lebih berguna.

Ajaib. Itu yang kurasakan, ketika yang kurasa tak mungkin, tiba-tiba hadir di depan mata. Aku tak tahu bagaimana semua bisa terjadi. Rasanya tiba-tiba saja semesta merestui. Tanpa kusangka, ada beberapa kesempatan yang membuatku bertemu dengan kawan yang berhobi sama. Akhirnya, bergabunglah aku di dalam komunitas pecinta aksara.

Pelan-pelan, Tuhan mengajakku mencoba lebih banyak hal. Dan semuanya, semuanya, sesuai apa yang kupinta. Rasanya tiba-tiba saja aku diperkenalkan kepada kelas-kelas menulis, kelas-kelas mentoring menulis, dan terakhir, di kelas-kelas tantangan menulis.

Aku pikir, ini pasti bukanlah kebetulan. Karena kebetulan memang tak pernah ada. Bahkan setiap daun yang jatuh, terjadi atas restu-Nya.

Ini, aku ingat benar, kapan aku pernah meminta ini terjadi. Hatiku yang memintanya. Doaku yang mengharapkan petunjuk-Nya. Akhirnya, semesta memberikan jalannya. Terima kasih Alloh, Engkau selalu luar biasa. Satu ‘keajaiban’ telah kau hadirkan kembali dalam kehidupan hamba.

Sekarang, di sinilah aku. Bersama kalian, teman-teman penulisku. Sahabat-sahabat seperjuanganku. Kita bersama dalam sebuah kisah. Merangkai mimpi, dan memperjuangkannya.

Karena seperti halnya cinta, kadang perjuangan yang membuat semesta bekerja seperti keinginan.

Bukan sebuah cinta tanpa harapan, karena tak pernah diungkapkan.

Terima kasih, Ibu ….

Aku percaya, ini berkat doamu.

Advertisements

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!

Jika Esok Tak Pernah Datang

Sebuah pertanyaan besar saat itu muncul dari balik meja kerjaku. Bertumpuk dokumen menunggu untuk dibaca, berbagai email masuk menunggu untuk dibalas, serta beberapa target project menunggu untuk dilaksanakan sesuai dengan timeline yang ditentukan. Namun entah mengapa, hari itu justru aku memikirkan hal lainnya.

Kudengar selentingan kabar, bahwa perusahaan akan ‘merumahkan’ begitu banyak karyawan. Tidak ada jaminan bisa ‘selamat’ meskipun jabatannya sudah di level aman. Sungguh menakutkan! Baru urusan beginian, tapi rasanya sudah seperti kiamat yang hampir datang.

Ya, dunia semakin tidak menentu saja, pikirku. Namun bukan itu yang menjadi masalah utama. Jika memang aku menjadi salah satunya, lalu apa yang harus kulakukan setelahnya? Selama ini hidupku sangat ‘nyaman’ dengan gaji-gaji yang rutin ku terima setiap bulan. Setiap akhir pekan, ku hamburkan uang untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Dalam sebulan, mungkin bisa kubeli 2 tas bermerek internasional. Luar biasa, bukan? Tapi, jika aku dianggap tak ‘berharga’, lantas apa yang bisa ku lakukan kemudian?

Telepon berdering, rupanya Si Bos memintaku untuk datang ke ruangannya. Belum juga berdiri, tapi lutut ini rasanya sudah tak ada tenaga. Tenang, ini bukan karena kau mau di-PHK, sudah … segera saja ke sana, turuti apa maunya, begitu batinku bersuara.

Dalam sehari itu, ku dengar dua orang Kepala Bagian Accounting tamat riwayatnya. Waktunya hanya dua minggu untuk membereskan semua barang-barangnya. Perusahaan tak mau tahu, yang penting rencana perampingan tenaga kerja bisa dicapai sebagai bentuk komitmen perusahaan. Perusahaan ingin membuat sebuah rencana kerja yang lebih efektif dan efisien di masa depan. Terlalu banyak orang tidak sejalan dengan rencana mereka. Itulah kenapa banyak karyawan harus ikut menanggung resikonya.

Aku, bagaimana nasibku? Selama ini aku merasa semua akan baik-baik saja. Kuliah di perguruan tinggi negeri, cari nilai sebaik-baiknya, lulus secepat mungkin, mendaftar pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar ternama, atau, ya … di kantor pemerintah saja, lumayan juga. Setelah itu, berkarir dengan sebaik-baiknya, dan nikmati hidup senikmat-nikmatnya. Yang akan terjadi nanti, ya sudah dipikir nanti saja lah ….

Aku lupa bahwa tidak pernah ada jaminan bahwa esok pasti akan datang. Tidak juga ada jaminan bahwa esok pasti akan lebih baik. Aku lupa untuk mempersiapkan masa depan, karena merasa telah sampai di kehidupan yang ku inginkan. Namun ternyata, itu juga yang membuatku lupa, bahwa ini adalah zona nyaman, bukan zona aman.

Kehidupan, memang sudah begini sejak awal mulanya. Tidak pernah mudah untuk menjalaninya. Kini, mungkin aku memang sedikit terlambat. Kesadaranku sangat telat dibandingkan mereka yang ku lihat dulu biasa saja. Mereka bukan biasa saja, tapi justru sedang menyimpan amunisinya.  Sekarang aku pun harus belajar dari apa ku tanam. Agar meskipun tidak sempurna, tapi masih bisa aku berharap, yang ku tuai tidak terlalu mengecewakan.

Kutekadkan diri untuk keluar dari zona nyaman. Jika dulu aku biasa mengatakan, “Yang nanti, dipikir saja gimana nanti lah …. ” sekarang harus ku ubah cara berpikirku menjadi, “Nanti gimana?”

Aku harus meyakinkan diri sendiri bahwa masih ada kesempatan bagi diriku, masih ada yang bisa ku lakukan untuk masa depanku. Tinggalkan mindset untuk merasa tenang, merasa hari esok pasti akan datang. Setiap hari harus diisi dengan perjuangan, dan perubahan. Jangan merasa nyaman, jangan merasa aman.

Memulai langkah bisnis, ataupun investasi adalah salah satu cara yang bisa ku pertimbangkan. Jika dulu selalu merasa nyaman dengan semua hal rutin yang biasa terjadi, kini tak boleh lagi. Kini, setiap hari, setiap saat, harus diisi dengan perubahan-perubahan. Manfaatkan waktu untuk hal-hal positif dan produktif, serta pergunakan segala aset dan sumber daya dengan bijaksana. Coba tantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru, hingga suatu hari nanti, masa depan akan berterima kasih padaku.

Ddddrrtt … dddrrrtttt … ddddrrttt …. (ponsel bergetar)

Astaga kenapa aku masih di sini? Aku pun akhirnya tersadar.

Dua puluh menit berlalu dalam lamunanku. Pak Boss sudah menunggu. Oke, aku pergi dulu. Tapi ada satu hal penting yang bisa kudapatkan. Bahwa setelah ini, aku bertekad untuk keluar dari zona nyaman. Siap menuju zona aman. Bukan hal mudah, aku tahu … tapi tak ada cara terbaik untuk membuktikan, selain mencobanya, kan?

 

You’ll never change your life, until you change something you do daily. The secret of your success is found in your daily routine ….