Bagaimana Membuat Quotes yang baik?

Dalam kehidupan, seringkali manusia membutuhkan sebuah dorongan atau inspirasi untuk melakukan banyak hal. Dari yang ragu, menjadi tidak ragu. Dari yang salah, menjadi benar. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dan lain sebagainya. Itulah yang akhirnya memunculkan sebuah ide, bernama quotes.

Quotes merupakan sebuah rangkaian kata yang mengandung sebuah arti atau makna tertentu. Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan, saat seseorang membuat quotes. Antara lain :

1. Diksi (pilihan kata)

Diksi adalah hal pertama, dan berperan sangat vital. Seseorang yang memang ingin membuat quotes harus menggunakan pilihan kata yang tepat, dan memiliki pemaknaan yang kuat. Sehingga quotes yang dihasilkan tidak perlu bertele-tele, menggunakan banyak kata, tetapi maknanya tidak memberikan kekuatan. Jika memang ingin membuat quotes, maka harus bisa menemukan diksi-diksi yang memberikan rasa dalam kata. Lalu dipadu padankan, akhirnya menjadi kalimat quotes yang singkat, padat, dan powerfull.

2.  Inspirasi

Untuk membuat quotes yang baik, maka juga penting untuk melakukan riset. Agar mampu menggali, apa saja kegelisahan, cara berpikir, masalah yang cocok diangkat, serta bagaimana seseorang mampu termotivasi dari quotes yang dibuat. Pada prinsipnya, riset sangat dibutuhkan sebelum melakukan berbagai macam hal.

Dalam hal inspirational quotes, maka dibutuhkan riset : Apa yang membuat orang tidak termotivasi, dan apa yang bisa membuat orang lain termotivasi. Ada dua jenis risetnya. Masalah dan solusi.

Jika pembuat quotes tidak melakukan ini, menurut saya, tetap bisa saja menulis quotes. Tetapi seberapa besar kekuatan quotes itu mempengaruhi orang lain, itu akan menjadi berbeda. Lalu apa tujuan membuat inspirational quotes, jika tidak ada orang lain yang merasa terpengaruh dan terinspirasi?

3. Gaya bahasa

Gaya bahasa adalah salah satu hal penting untuk diperhatikan saat menulis quotes. Dengan menggunakan gaya bahasa yang tepat, mampu membuat quotes tersebut diingat dengan baik oleh pembaca. Selama ini, gaya bahasa digunakan oleh banyak jenis tulisan, untuk menyampaikan pesan dengan lebih megena, karena mengedepankan rasa. Rasa, sangat penting. Karena dengan rasa, pesan bisa sampai dengan lebih mudah, dan sifatnya memorable. 

4. Tema

Tema sangat terkait dengan quotes yang akan dibuat. Jika seorang amatir, ingin membuat sebuah quotes, maka penting untuk menuliskan secara spesifik tentang tema quotes. Misal, tema umumnya adalah menulis dan inspiratif. Maka, penting untuk membuat daftar jawaban dari hal-hal terkait menulis dan inspiratif. Jawaban-jawaban itu, bisa diawali dari pertanyaan-pertanyaan. Misal, apa arti menulis untuk saya? Apa manfaat menulis untuk saya? Mengapa menulis itu penting untuk dilakukan? Apa saja yang bisa membuat orang suka menulis? Apa saja usaha yang telah saya lakukan untuk menulis? Apa yang akan saya lakukan jika saya merasa sedang tidak punya ide? dan lain sebagainya.

Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu, akan mengerucutkan dalam tema spesifik. Dari tema spesifik, maka pembuat quotes bisa mendapatkan gambaran khusus untuk dituliskan ke dalam kalimat quotes.  Semakin spesifik tema yang diangkat, semakin mampu menjadi kekuatan bagi pembaca quotes.

Itulah keempat hal penting yang menurut saya perlu diperhatikan saat membuat quotes. Diharapkan quotes yang dihasilkan dari proses tersebut mampu menghasilkan kekuatan, solusi, dan inspirasi bagi pembaca atau pendengar.

Coba bedakan antara quotes biasa dengan quotes yang sudah biasa didengar. Quotes bisa saja abadi, bahkan meskipun pembuat quotes itu telah tiada. Quotes-nya masih selalu diingat dan didengungkan. Kenapa? Karena pesan yang ia sampaikan merupakan racikan yang tepat antara diksi, gaya bahasa, rasa, tema, paham masalah yang dihadapi, serta merupakan solusi.

Sebenarnya, menurut saya pribadi, quotes itu tidak untuk sengaja dibuat. Saat Anda mendengar inspirational quotes dari tokoh-tokoh besar, misal : Ir. Soekarno, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gus Mus, dan lain-lain, apakah beliau memang sengaja membuat quotes untuk menginspirasi orang lain? Saya berkeyakinan tidak. Namun, pada kenyataannya, banyak sekali kata-kata beliau yang dikutip, dan diangkat sebagai quotes. Tanya kenapa? Bagi saya, karena kalimat yang para tokoh sampaikan, secara tidak langsung mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Mampu mengusik rasa.

Namun, jika Anda memang sengaja membuat quotes, baiklah. Namun, buatlah quotes dengan baik. Sampaikan pesan dengan benar-benar mengedepankan rasa, tetapi juga memainkan logika dengan tepat. Keempat hal di atas, semoga bisa turut membantu untuk mencerahkan.

Advertisements

Bawang Putih, Nasibmu Kini. Tanya Kenapa?

Sebagai ibu rumah tangga, di mana frekuensi ke pasar lebih sering dibandingkan ke mall, maka saya tahu betul bahwa harga bawang putih kini sudah sama dengan harga ayam. Bukan hanya masalah harga, ketersediaan barangnya pun semakin langka. Selama kira-kira hampir sebulan, harganya terus saja merangkak naik meninggalkan komoditas lain. Ada apa gerangan?

Saya mencoba melakukan riset sederhana untuk membuat praduga atas alasan kenaikannya. Kira-kira ada dua hal besar yang menjadi dugaan saya, yaitu :

1. Impor yang belum tereksekusi dengan baik

Sejujurnya saya sedih untuk mengatakan, “Impor belum tereksekusi dengan baik.” Negara  dengan wilayah pertanian sangat luas ini justru masih menggantungkan 95% kebutuhan dalam negeri komoditas bawang putih dari impor. Negara importirnya terbesarnya adalah Cina dan Tiongkok.

Sesuai dengan riset data yang saya dapatkan, kebutuhan bawang putih Indonesia rata-rata berada di angka 500 ribu ton/ tahun. Namun berapa jumlah produksinya? Jika dibandingkan dengan tahun 2017, realisasinya hanya bisa di angka 70 ribu ton. Untuk tahun 2018, diproyeksikan bisa mencapai angka 100 ribu ton. Lalu berapa kebutuhan impornya? Tentu secara hitungan kasar, Indonesia masih membutuhkan sekitar 400 ribu ton. Luar biasa!

Pada awal Maret 2018 lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH) untuk mengimpor sebanyak 400 ribu ton dari Cina kepada 37 perusahaan importir. Realisasi volume impor yang akan diberikan, seluruhnya tergantung pada ijin yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Selanjutnya baru-baru saja, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan ijin untuk mengimpor 196 ribu ton bawang putih melalui Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada 13 importir.

Meskipun sudah diterbitkan SPI, kelangkaan barang masih mungkin terjadi. Hal ini disebabkan realisasi impor yang dirasa kurang optimal. Terkesan terlambat, sehingga belum banyak bawang putih yang tiba di Indonesia. Jumlah importir saat ini juga hanya 13 perusahaan. Ada dugaan bahwa sedikitnya jumlah importir ini karena kebijakan dari Menteri Pertanian, yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan)  Nomor 16 Tahun 2016 tentang Rekomendasi Impor Produk Holtikultura (RIPH). Dalam aturan tersebut, mewajibkan importir untuk menghasilkan 5% bawang putih dari alokasi impor. Artinya, ada kewajiban bagi importir untuk ‘menanam’ bawang putih di lahan sendiri.

Simulasinya seperti ini. Jika seorang importir ingin mengeksekusi hak impornya, maka untuk menghasilkan 1.000 ton bawang putih dalam setahun, ia harus memproduksi 50 ton bawang putih dari kebun ‘sendiri’. Jika setiap hektar diperkirakan bisa menghasilkan 6 ton bawang putih, maka dibutuhkan lahan kurang lebih 8,33 hektar untuk menghasilkan 50 ton. Artinya, dibutuhkan biaya 416-500 juta per 50 ton bawang putih. Hal ini sebenarnya masih bisa disanggupi oleh importir. Hanya merasa berat, karena dianggap minim bantuan dari pemerintah, misalnya untuk bibit.

Lalu, apakah Indonesia tidak bisa swadaya bawang putih seperti halnya pada bawang merah? Ternyata, Indonesia pernah mampu memenuhi 80% kebutuhan dalam negeri sampai tahun 1998. Setelah itu, Indonesia bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO). Saat itulah, bawang putih asal negara lain khususnya Cina, menyerbu pasar Indonesia dan mematikan usaha bawang putih lokal karena harganya jatuh. Bawang putih lokal ukurannya kecil-kecil, berbeda dengan bawang putih impor yang besar-besar.

Dilihat dari teknik penanaman dan kondisi lahan yang ada di Indonesia, menanam bawang putih memang lebih sulit dibandingkan bawang merah. Bawang putih lebih memerlukan kondisi yang spesifik seperti kondisi lahan dan suhu tertentu. Itulah mengapa, semakin banyak petani yang malas melakukan penanaman bawang putih. Apalagi tanpa adanya bantuan teknologi untuk bisa melakukan penamanan secara massive.

2. Efek tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia

Pada pertengahan Februari 2018, harga minyak dunia menyentuh level hingga mencapai USD 65,73 per barel untuk harga minyak mentah Brent. Pemulihan pasar ekuitas global dan ketegangan di Timur Tengah angkat harga minyak,  di tengah kekhawatiran kenaikan produksi di AS. Pada awal pekan ini, harga minyak mentah Brent dibuka naik di atas USD 70 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari 2018. Lantas apa efeknya bagi Indonesia?

Ada dua hal utama yang menjadi pembentuk harga jual BBM, yaitu harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Jadi, jika dalam waktu yang bersamaan harga minyak mentah dunia naik, dan rupiah melemah, maka harga jual BBM akan melonjak. Atau, jika harga minyak dunia turun, tetapi nilai tukar rupiah melemah, maka harga jual BBM pun sulit untuk turun. Selama ini, Pemerintah meninjau harga jual BBM setiap tiga bulan.

Kondisi saat ini, harga minyak dunia memang sedang tinggi. Bagaimana dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar? Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah di level Rp 13.800 per USD. Namun, pekan ini sudah menguat ke level Rp 13.600 per USD. Melihat kisarannya, nilai tukar rupiah terhadap dolar itu masih relatif lemah. Kondisi itulah yang akhirnya membuat Pemerintah menaikkan harga Pertalite kembali per 24 Maret 2018. Alhasil, kenaikan pada Maret 2018 ini merupakan kenaikan yang kedua sejak Januari 2018.

Seperti diketahui bahwa sejak 2015, Pemerintahan Presiden Jokowi sudah mengurangi dan mencabut subsidi BBM besar-besaran untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Karena itulah, kenaikan harga minyak mentah dunia dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mempengaruhi harga BBM non-subsidi.

Pemerintah mengklaim bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan terlalu mempengaruhi masyarakat. Hal ini dilihat dari tingkat inflasi bulanan di Februari  2018 sebesar 0,17% yang didominasi oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara dari kontribusi kelompok bahan bakar, hanya 0,22%. Prediksi inflasi di Maret hanya akan meningkat sekitar 0,2% dan di April akan meningkat lagi di kisaran 0,3% membuat Pemerintah merasa bahwa dampak kenaikan BBM tersebut tidak signifikan.

Namun, apakah benar demikian?

Sejak subsidi yang dikurangi besar-besaran oleh Pemerintah, maka golongan Non-subsidi juga akan merasakan pengaruhnya jika terjadi perubahan pada harga pasar dunia. Tiga kelompok bahan bakar yang  dikurangi subsidinya oleh Pemerintah meliputi, BBM, Gas (LPG), dan Listrik. Maka, jika terjadi kenaikan harga BBM Non-subsidi serta listrik, maka otomatis akan berimbas pada industri. Biaya produksi akan meningkat, karena akan mempengaruhi biaya pendistribusian barang hingga ke tangan konsumen. Naiknya biaya produksi tersebut, akan membentuk kenaikan harga hingga di tangan konsumen. Hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan, termasuk bawang putih. Akibatnya, seluruh masyarakat baik di kelas penerima subsidi BBM maupun Non-subsidi, secara tidak langsung akan merasakan dampaknya.

Dua hal tersebut yang (mungkin) bisa saya simpulkan dari penyebab melambungnya harga bawang putih beberapa waktu terakhir ini. Jika bahan makanan pokok lain tidak terlalu tinggi naiknya, hal itu disebabkan karena ketersediaan pasokan di dalam negeri. Berbeda dengan bawang putih yang menggantungkan hampir semua kebutuhan dari impor. Itu membuat ketika terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri, Indonesia harus buru-buru membuka keran impor.

Dengan harga produksi yang juga sedang tinggi, ditambah kekosongan stok di dalam negeri, membuat masyarakat Indonesia terpaksa harus menelan ludah. Mau tidak mau harus menerima. Tak ada yang bisa dilakukan. Lari pun ibarat dikepung macan. Bertahan dengan segala cara. Masyarakat Indonesia tidak mungkin makan tanpa bawang, kan?

Lalu, kapan Indonesia bisa seperti Thailand dalam hal pertanian? Hmm … masih jauh tampaknya perjalanan kita.

Sumber Referensi :

  1. https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/03/01/1441/februari-2018-inflasi-sebesar-0-17-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-jayapura-sebesar-1-05-persen-.html
  2. http://ekbis.rmol.co/read/2018/03/27/332604/Gila,-Harga-Bawang-Putih-Nyaris-Tembus-Rp-50.000-Per-Kg-
  3. http://industri.bisnis.com/read/20180322/99/753112/bawang-putih-realisasi-impor-belum-optimal-harga-tinggi
  4. https://www.merdeka.com/uang/kenaikan-harga-bawang-putih-dicemaskan-picu-kelangkaan.html
  5. http://www.liputan6.com/bisnis/read/3411055/harga-minyak-dunia-naik-bertahan-di-atas-usd-70-per-barel
  6. https://www.medcom.id/ekonomi/globals/xkEn777K-kenaikan-persediaan-as-buat-harga-minyak-dunia-jatuh
  7. https://tirto.id/alasan-pertamina-naikkan-harga-pertalite-rp200-per-liter-cGH7
  8. https://economy.okezone.com/read/2018/03/22/320/1876263/harga-minyak-dunia-naik-ke-level-tertinggi
  9. https://tirto.id/cara-pemerintah-dan-pertamina-menetapkan-harga-bbm-cvzz
  10. http://www.liputan6.com/bisnis/read/625211/bagaimana-cara-pertamina-hitung-harga-jual-bbm
  11. https://katadata.co.id/berita/2018/03/06/kementan-terbitkan-rekomendasi-impor-400-ribu-ton-bawang-putih
  12. https://katadata.co.id/berita/2018/03/07/kemendag-keluarkan-izin-impor-200-ribu-ton-bawang-putih
  13. https://katadata.co.id/berita/2018/03/23/harga-tinggi-di-pasar-mendag-akan-panggil-importir-bawang-putih
  14. http://jateng.tribunnews.com/2018/03/02/ada-apa-ini-nilai-tukar-rupiah-sentuh-rp-13775-per-dollar-as

‘Skill’ Kok Njiplak!

Beberapa hari kemarin, saya kembali dikejutkan oleh berita tentang seorang penulis yang melakukan plagiat pada 24 karya sastra. Sinting! Bagaimana mungkin ia bisa se-hilang akal itu? Bukankah sebagai seorang penulis –atau bahkan siapa pun manusianya — sejak awal mulai mengenal aksara, sudah pasti tahu bahwa plagiasi adalah sebuah kejahatan. Haram!

Yang lebih gila lagi, yang diplagiat itu adalah jenis cerpen sastra, yang kemudian dikirimkan ke beberapa media ternama Indonesia. Akhirnya, ada sebagian karyanya yang dimuat. Entahlah … ini sebuah kepintaran tingkat dewa bisa memilih dan memlagiat hingga 24 karya, atau justru kebodohan yang amat sangat.

Lebih mengejutlah lagi, melihat fakta bahwa plagiator ini adalah seorang penulis yang (katanya) sudah berkemampuan menulis dengan baik. Dengan profilnya waktu itu, seseorang yang digambarkan sebagai sosok sederhana dan pendiam.

Upaya seorang plagiat untuk menjadi penulis profesional yang mendapatkan pengakuan dari dunia literasi, tampaknya salah dipahami. Memplagiat karya orang lain sesungguhnya adalah upaya bunuh diri. Jika sudah begini, bukan masalah plagiator tersebut menyesal atau tidak. Bukan masalah ia berjanji tidak akan mengulangi atau tidak. Serta bukan masalah ia akan bangkit dari keterpurukannya akibat hujatan bertubi-tubi, atau tidak. Pertanyaannya, masihkah dunia percaya? Siapa yang akan percaya, karya yang ia tuliskan bukan hasil dari menjiplak?

Mengingatnya, membuat saya yang masih berjuang keras di dunia ‘ini’ serasa ditampar keras!

Namun, siapa sangka … penulis sekelas J.K Rowling dan Dan Brown pun pernah dihampiri dugaan melakukan plagiat. Dari Indonesia, sekelas Chairil Anwar pun pernah diduga menjiplak karya orang lain. Pada tahun 2010, penulis J.K Rowling disebut dalam perkara hukum yang menyebutnya mencuri ide untuk buku-buku Harry Potter-nya dari seorang penulis Inggris lainnya. Gugatan di salah satu pengadilan di London itu menyebutkan bahwa buku J.K Rowling yang berjudul Harry Potter and  The Goblet of Fire menyalin banyak bagian dari buku Jacob tahun 1987, The Adventures of Willy The Wizard-No 1 Livid Land.

Begitu pula yang terjadi pada Dan Brown. Novelnya yang berjudul The Da Vinci  Code dituduh melakukan plagiat atas novel berjudul The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent dan Richard Lee. Tuduhan lain juga muncul dari seorang novelis lain bernama Lewis Perdue, untuk salah satu novelnya yang berjudul Daughter of God.

Di Indonesia, penyair Chairil Anwar dituduh oleh Hans Bague Jassin, seorang kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia. Hans membandingkan karya puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Chairil menyanggah hal itu hingga ketegangan antara mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Hans sempat berkelahi.

Itu sebagian dari nama-nama penulis Indonesia yang terkenal. Lantas, bagaimana yang namanya tidak populer? Seperti yang diungkapkan oleh Pak Bambang Trim,  Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) dan Pendiri Institut Penulis Indonesia, bahwa pernah dalam satu bulan, beliau sudah menerima tiga laporan tentang buku-buku rekan penulis yang diplagiat dalam bentuk buku lagi dengan judul yang mirip, atau paling tidak mengandung satu-dua kata kunci dari buku mereka.

Mental-mental plagiat ini memang harus dimusnahkan dari muka bumi. Namun, mengapa kenyataan ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah sulitnya melacak. Ada jutaan bahkan mungkin milyaran karya yang tersebar, dan masih terus bertambah setiap detiknya. Jika karya itu adalah sebuah foto atau lukisan, Anda hampir tidak mungkin untuk menjiplaknya. Tetapi jika tulisan, bagaimana Anda bisa menentukan originalitasnya?

Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada ide yang benar-benar murni. Ide terbentuk dari pola pikir, cara pandang, dan hasil olah pikiran yang didapatkan dari mendengar, melihat, dan membaca ide orang lain. Jika memang demikian masih bisa dilakukan, mengapa Anda tidak memilih menjadi epigon saja dibanding menjadi plagiator? Epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya. Singkatnya, peniru seniman atau pemikir besar. Itu masih tidak masalah, jika dibandingkan dengan melakukan plagiat. Contoh karya yang banyak ditiru oleh penulis lain misalnya Ayat-Ayat Cinta. Pada awal kemunculannya, novel ini banyak ditiru. Banyak yang menuliskan kisah sejenis, bahkan cover dan nama penulisnya pun senada.

Lantas, apa bedanya kisah tuduhan yang dilayangkan pada novelis J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar dengan para plagiator recehan di Indonesia? Para penulis level dewa seperti J.K Rowling, Dan Brown, serta penyair Chairil Anwar berhasil membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah. Bahkan mereka siap berperang di meja hijau demi membuktikan nama baik dan kredibilitas kemampuan mereka. Sedangkan di Indonesia, para plagiator kelas receh malah dengan bodohnya melakukan bunuh diri secara terang-terangan di perang terbuka.

Sumber Referensi :

  1. https://sains.kompas.com/read/2010/02/19/0405249/jk.rowling.digugat.melakukan.plagiat
  2. https://www.kompasiana.com/prasetyo_pirates/epigon-vs-plagiat_552e5e406ea83483568b456a
  3. https://www.kompasiana.com/bambangtrim/598272b557c78c462c121132/sontoloyo-plagiat-buku-merajalela
  4. http://sastranesia.com/arti-kata-epigon/
  5. http://www.plimbi.com/article/163307/tokoh-ternama-pernah-dituduh-plagiat

 

 

Hari Tersibuk di Dunia

Bagi seorang ibu rumah tangga, ternyata hari tersibuk di dunia itu bukanlah hari Senin hingga Jumat. Melainkan justru hari Sabtu dan Minggu. Mungkin Anda yang belum menikah, akan heran membaca pendapat saya. Solusinya, cepatlah menikah dan menjadi ibu rumah tangga, hehe ….

Bagi seorang ibu rumah tangga, Sabtu dan Minggu justru sangat banyak agenda. Mulai pagi, hingga pagi lagi. Kapan tidurnya? Haha …. Di mana semua yang bekerja sedang libur dan bersantai di rumah, tapi ibu rumah tangga tak punya hari libur. Justru ia harus bangun lebih pagi untuk memastikan banyak hal telah siap lebih awal. Mengurus suami dan anak-anak, yang mungkin saja hari itu akan membuat pemandangan rumah lebih mirip kapal pecah. Agenda siang, sore, hingga malam pun kadang sudah ada di luar rumah. Lelah? Pasti.

Namun, ini bukan tulisan berisi keluhan. Ini adalah kisah, di mana ternyata dalam tantangan menaklukkan hari tersibuk di dunia, saya memutuskan untuk tetap menulis. Meskipun ya, kali ini yang saya tulis hanya recehan. Hehe ….

Pada DWC12 kali ini, saya mengalami beberapa tantangan berbeda dibandingkan DWC11. Tantangan yang saya alami karena menghadapi orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan tujuan yang berbeda. Dalam beberapa hal, menjadikan saya lebih tertantang. Namun, dalam beberapa hal lain membuat saya sedikit harus memundurkan langkah. Namun, meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap menulis di hari tersibuk di dunia, Sabtu dan Minggu.

Mengikuti tantangan menulis membuat saya lebih berusaha untuk mengatur waktu. Saya harus bangun lebih pagi, harus selalu berusaha lebih cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas keseharian, serta berpikir lebih cepat. Akhirnya, hari tersibuk di dunia itu, justru menjadi sangat sangat produktif. Bagi emak-emak, tidak ada waktu tidak produktif. Yang ada adalah sangat produktif, atau sangat produktif sekali.

Seperti saat ini, di hari ke-4 tantangan menulis di DWC12. Saya baru bisa mulai menulis dari pukul 21.47 malam. Banyak sekali yang harus saya selesaikan hari ini. Namun, apakah saya terpikir untuk tidak menyelesaikan tantangan menulis harian? Jawaban saya, tidak. Saya harus tetap menulis, masih ada waktu kurang lebih 2 jam lagi. Hanya tema yang saya pikirkan memang berubah, harus lebih sederhana. Namun, saya harus tetap menulis. Tidak ada alasan dengan bersembunyi di balik kata pembenaran.

Ya. Menulis dalam kesibukan, di hari tersibuk di dunia pula, membuat saya semakin paham, bahwa waktu adalah sesuatu yang harus kita tentukan sendiri. Kesempatan adalah hal yang harus kita ciptakan sendiri. Apapun bisa mungkin, saat kita merasa hal itu adalah penting. Akhirnya, kita akan lebih cerdas dalam menentukan sebuah prioritas di hari yang sama. Haruskah begini? Bagi saya, ya. Untuk naik kelas, bagaimana saya tidak mau menempuh ujian?

What’s Next in 30DWC Jilid 12? (Part 2)

7. Membeli Beberapa Buku

Ada beberapa buku yang saya beli untuk ‘memaksa’ diri saya belajar. Ya, tugas di kehidupan nyata sesungguhnya sangat luar biasa banyaknya. Sedangkan menulis, tak bisa dilepaskan dari membiasakan diri untuk membaca. Beberapa buku yang saya beli itu meliputi fiksi dan non-fiksi. Ada beberapa buku non-fiksi yang memang saya beli untuk meng-update kebutuhan saya, khususnya tentang menulis, dan bisnis. Sedangkan buku fiksi, saya membutuhkannya untuk meluaskan imajinasi. Memang, belum semuanya terselesaikan. Namun, bagi saya yang terpenting justru beli dulu. Agar saat membutuhkannya, kita tahu ke mana harus mencari jawabannya.

8. Membaca

Membaca, tak bisa dipisahkan dari kata menulis. Butuh banyak wacana yang dibutuhkan untuk menulis, sehingga dengan adanya beberapa buku yang saya beli, akan memaksa saya untuk membaca. Jujur saja, tidak mudah untuk melakukan kegiatan ini di tengah kesibukan di dunia nyata. Namun, membaca pun sebenarnya tidak harus selalu  membaca sebuah buku. Bisa saja membaca cerpen, artikel, karya tulisan milik orang lain, dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah tiada hari tanpa melewatkan kesempatan ini. Nah, sebagai bentuk nyatanya, saya membuat catatan hasil tulisan yang saya baca setiap harinya.

9. Mencari inspirasi ide baru

Mencari inspirasi ide baru ini saya perlukan agar saya selalu ada gagasan baru sebagai langkah lanjutan dari apa yang sudah saya mulai saat ini. Inspirasi ide baru itu misalnya diawali dari pertanyaan, “Jika ikut DWC lagi, apa yang akan saya tuliskan?” kemudian bisa juga dari, “Apa yang harus saya lakukan agar tulisan saya lebih bisa dibaca banyak orang? Apakah saya akan tetap menggunakan blog sebagai platform utama, ataukah ada yang menarik lainnya?”

10. Membuat bank ide

Berdasarkan beberapa inspirasi yang saya dapatkan, maka saya harus mengikatnya. Yaitu dengan mencatatkan ide. Ada beberapa ide yang saya dapatkan untuk bisa dikembangkan. Saya catat ke dalam buku khusus menulis, dan memikirkannya lebih detail. Terlebih jika saya ingin menjadikannya ke dalam sebuah buku pribadi. Ide-ide tersebut tak harus yang non-fiksi, tetapi termasuk ide cerpen yang akan saya pikirkan pengembangannya untuk dijadikan tulisan.

11. Mengikuti Grup yang memberikan manfaat

Dalam perjalanan menulis ini, tanpa disadari saya memang menjadi sangat haus ilmu menulis. Semakin mencari untuk tahu, semakin banyak yang tidak diketahui. Suatu hari saya iseng untuk menghitung berapa grup menulis yang saya ikuti. Ternyata lebih dari 30, haha ….

Grupnya rame? Sebagian. Banyak aktivitas atau tantangan menulis? Sebagian. Banyak para admin yang bernafsu untuk membuat sebuah grup menulis, menawarkan banyak janji-janji, tetapi kenyataannya sedikit saja yang bisa menjaga frekuensi menulis para anggotanya. Sama seperti saya, yang juga sangat bernafsu untuk bergabung ke dalamnya tanpa melakukan seleksi. Dengan ini, saya putuskan untuk melakukan ‘bersih-bersih’ grup.

Dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya pilih yang memberikan manfaat secara khusus. Misal, secara berkala menghadirkan pemateri untuk melakukan sharing di grup. Bisa dari para penulis yang sudah terlebih dulu memiliki karya,  bisa juga dari para mentor yang memiliki kemampuan coaching, ataupun kelas-kelas khusus yang memfasilitasi aktivitas menulis. Selain itu, saya remove.

12. Menjaga frekuensi semangat menulis

Bagaimana cara saya menjaga agar tetap dalam frekuensi yang sama untuk bersemangat menulis. Dengan bangga, saya sampaikan terima kasih yang sangat besar kepada rekan-rekan saya di Squad 10, alumni 30DWC Jilid 11. Di sana saya menemukan aura sangat positif dan memacu semangat untuk menulis. Setiap saat bicara tentang menulis, meng-update informasi lomba, share ilmu kepenulisan, serta share karya hasil tulisan untuk dibaca, dan memberikan feedback yang membangun.

13. Diskusi dengan mentor

Diskusi adalah hal penting yang saya sukai. Bagi saya, tidak mudah menjadi seorang mentor. Dan lebih tidak mudah lagi, menemukan seorang mentor yang tepat dan berkualitas. Seorang mentor berperan untuk mendorong, membantu, serta menjadi backing dalam proses yang kita lakukan untuk menjadi penulis handal. Cara-cara yang dilakukan mentor pun berbeda-beda. Ada yang memang mendampingi dengan kasih sayang selayaknya seorang ibu kepada anaknya, ada juga yang memberikan cara dengan self-coaching, ada juga yang caranya menghempaskan kita jauh hingga ke dasar jurang, mengkritik habis-habisan agar kita bisa paham bagaimana seharusnya berlatih dan berusaha. Bagaimanapun, tujuannya adalah sama. Sesuaikan saja dengan style yang kita sukai.

Ternyata, paling tidak ada 13 aktivitas menulis yang saya lakukan selama masa jeda. Namun, apakah mampu menjadi pondasi lebih untuk DWC12? Pertanyaan dasar kembali muncul, apa yang akan saya lakukan di DWC12?

Atas dasar ketiga belas aktivitas di atas, rasanya saya masih di tahap untuk menemukan ‘jati diri’. Semua tentang dunia kepenulisan ingin saya pelajari. Level pun, masih jauh dari kata bisa. Semua genre saya coba untuk mempelajari tekniknya, menuliskan, dan mencoba membuat karya yang berbeda-beda. Bagaimanapun, cara latihan menulis paling ampuh adalah dengan menuliskannya, kemudian mempublikasikannya dalam karya. Apapun jenisnya.

Untuk itu, target utama DWC12 tidak akan muluk-muluk. Masih untuk meningkatkan kualitas tulisan, sambil menemukan hal-hal baru atau potensi diri yang bisa saya gali. Saya tidak mau kualitas recehan.

Lalu, misinya apa?

Ada tiga jenis topik utama yang akan saya jadikan objek tulisan, yaitu : menulis naskah dengan satu tema (fiksi/ non-fiksi), menulis cerpen sebagai latihan untuk masuk ke jenis cerpen media (fiksi), serta menulis artikel tentang hal-hal menarik di sekitar (non-fiksi).

Kenapa tidak pilih salah satu dulu? Karena proses belajar saya memang begini. Kadang ide-ide yang datang tak bisa hanya dari satu jenis saja. Saya tidak mampu menahan untuk tidak menuliskannya. Jadi biar saja. Saya percaya, setiap naskah akan menemukan jodohnya. Tangkap, dan tuliskan saja.

“I can always edit a bad page, but not blank page.”

What’s Next in 30DWC Jilid 12 ?

Ya. Sudah sebulan sejak 30DWC Jilid 11 berakhir. Sekarang, masuk lagi hari pertama perang dimulai untuk 30DWC Jilid 12. Anggota Empire banyak yang berbeda, kawan Squad pun juga sudah tak sama. Rules secara teknis sebagian besar juga sama, hanya mungkin akan ada beberapa kejutan yang akan dilakukan di tengah-tengah periode tantangan.

Saya berpikir, apa yang akan saya lakukan di DWC Jilid 12 ini? Ketika semua kawan sudah berganti, begitupun semangat dari mentor untuk melakukan inovasi, apakah saya masih tetap sama? ”B-aja”, kata mentor saya. Jangan-jangan yang tidak berubah justru adalah saya. Jadi miris saya memikirkannya. Ini bukanlah perang melawan mereka, ini adalah perang melawan saya. Diri saya sendiri. Beranikah memulai?

Selama masa jeda antara DWC11 hingga DWC12, apa saja yang telah saya lakukan? Apakah seproduktif saat ikut DWC11? Ini akhirnya menjadi pertanyaan besar. Apakah saya selalu hanya terorientasi target? Semangat yang berapi-api itu karena saya punya target yang ingin saya capai. Jika tidak, maka terlenalah saya dengan segala alasan.

Maka dari itu, saya putuskan untuk ikut kembali di DWC12. Karena ternyata mental tempe saya, membuat saya belum membuahkan hasil yang saya harapkan. Tapi, ikut DWC12 lagi, lalu apa yang harus saya lakukan? Jawab pertanyaan besar ini dulu, begitu batin saya.

Sebelum melangkah ke sana, saya ingin menuliskan dulu, apa saja yang telah saya lakukan untuk aktivitas menulis, selama masa jeda. Antara lain :

  1. Mengambil project antologi

Ada tiga grup yang berencana akan membuat antologi. Cerpen teenlit remaja (fiksi), kumpulan eksperimen anak di bidang Fisika & Kimia (non fiksi), Cara menjadi orang yang lebih baik (non-fiksi). Ada beberapa lainnya, tetapi belum mendapatkan kepastian bagaimana tema dan ketentuan teknisnya.

  1. Revisi naskah-naskah antologi yang akan terbit

Dari dua yang akan terbit, yaitu tentang tema detektif cilik, dan genre thriller, sebagian harus saya revisi. Rencana akan diajukan ke penerbit major, dan editornya adalah salah satu editor penerbit major, sehingga lebih detail koreksinya. Di sini saya jadi banyak belajar tentang bagaimana membuat naskah yang lebih baik. Ada teknik-teknik yang harus saya pelajari lagi dengan lebih cermat.

  1. Belajar di kelas mentoring menulis

Ada kelas mentoring yang saya ikuti untuk belajar menulis lebih baik. Ada mentor yang akan membantu dalam proses saya bertumbuh. Sebenarnya, idealnya, kelas mentoring ini bisa saja tidak dilakukan. Artinya tidak akan menjadi wajib bagi seseorang. Asalkan ia punya kemampuan belajar sendiri yang luar biasa.

Hanya saja, bagi saya, kelas ini bukan hanya berperan sebagai kelas belajar, tetapi saya jadikan sebagai salah satu ‘pintu masuk’. Di kelas-kelas ini sudah terkumpul kawan-kawan baru, yang memiliki semangat dan tujuan yang sama. Saya bisa masuk ke dalam komunitas untuk memperoleh ilmu lebih banyak dan cepat.

  1. Mengikuti tantangan menulis 7 hari non stop, bernama GTC

Satu lagi, tantangan menulis yang ingin saya rasakan. Saat itu, ada seorang kawan yang menyarankan untuk ikut GTC. GTC adalah pintu gerbang untuk menuju ke grup menulis bernama YWC (Young Writers Club), di mana syaratnya adalah menulis 7 hari tanpa jeda. Namun, yang paling membuat saya semangat adalah, di dalam grup YWC tersebut ada seorang mentor menulis cerpen sastra media yang sangat hebat, bernama Ongky Arista. Tidak mudah untuk bisa menemuinya.

Beliau memang hanya berstatus sebagai anggota di YWC, tetapi akan membuka kelas sendiri untuk beliau mentori. Ini yang paling membuat saya rela menempuh perjalanan jauh, meskipun status saya sampai saat ini masih berdiri di depan rumah beliau, menunggu dibukakan pintu. Tapi saya akan menunggu, demi kesempatan itu.

  1. Mengevaluasi Draft Novel

Ada sebuah draft yang saya pernah tuliskan. Hasil dari pertarungan saya di lomba menulis novel. Ada tujuh tahapan seleksi yang harus saya lalui. Saat itu, belum untuk bertarget menang, tetapi lebih kepada ingin melihat sejauh mana kemampuan saya saat ini, sebagai pemula. Akhirnya, saya kalah di tahapan seleksi ke-4. Namun selama itu, saya  jadi bisa memperoleh sedikit gambaran mengenai tahapan seleksi oleh editor. Banyak yang memang harus saya perbaiki. Di waktu jeda inilah, saya sesekali melihat kembali ke draft lama saya, dan melakukan evaluasi.

Stres juga ternyata. Merevisi karya sendiri, menimbulkan rasa yang lebih berat dibandingkan dikoreksi orang lain. Selain harus membacanya berulang-ulang, rasanya juga seperti selalu saja ada kesalahan. Selalu saja ada yang kurang pas. Apalagi jika menemukan sebuah celah, atau alur yang ingin saya ubah. Tapi, bukankah itu sama saja akan mementahkan naskah jadi seperti awal lagi? Tidak mudah menjadi ingin sempurna, sungguh.

  1. Bergabung di komunitas WIFI Jakarta

Setelah berhasil melalui tantangan menulis di 30DWC Jilid 11, maka saya diijinkan untuk masuk ke grup alumni yang dibagi dalam Region, sesuai domisili. WiFI (Writer Fighter Indonesia) namanya. Saya bergabung ke dalam Region Jakarta. Di sana, bertemu kembali dengan para penulis yang sudah lebih senior, sudah lebih banyak karyanya. Wow!

Di sini, diberlakukan peraturan untuk OWOP (One Week One Post), artinya harus menyetorkan tulisan minimal satu tulisan setiap minggu. Hal ini dilakukan untuk membuat fighters tetap aktif menulis, meskipun hanya satu tulisan saja dalam seminggu. Sekali lagi, lingkungan bertumbuh yang kondusif berperan penting untuk menjaga semangat penulis. Tidak harus, tapi itu sangat membantu.

(bersambung)

Syukur Sederhana

Sebenarnya permintaan Tuhan itu sederhana. Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali di antara kita, manusia, yang tidak menyadarinya. Atau sebenarnya tahu, tetapi lupa. Padahal, jika kita menghitung jumlah nikmat Tuhan pada kita setiap hari, setiap detik, tak akan mampu kita menghitungnya.

Kucoba tuliskan satu saja hal yang membuatku bersyukur hari ini, dari sekian banyak yang kutuliskan. Sore ini, jadwalku mengantar anak untuk les menggambar manga. Kebetulan, aku bertemu dengan pemilik usahanya. Beliau jarang ada. Moment semesta yang mempertemukan kami saat itu, kugunakan untuk ngobrol ringan saja. Dari sekian bahan obrolan yang kami bicarakan, ada satu hal menarik yang akhirnya kuketahui. Beliau sangat suka membaca. Wah … hal yang akan sangat cocok dengan saya juga.

Saya penulis, ehm sorry … lebih tepatnya sedang belajar untuk menjadi penulis. Membaca adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis yang berkualitas. Menulis adalah sebuah aktivitas yang lebih sulit daripada membaca. Jika aktivitas membaca, Anda ingin menyerap ilmu atau pun pandangan orang untuk Anda simpan dan masukkan ke dalam memori Anda sendiri. Membuat sebuah pengalaman batin sendiri. Untuk mencapai itu, Anda tidak perlu menulis. Hal ini berbeda dengan aktivitas menulis. Menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca. Karena membaca adalah ‘asupan gizi’ yang dibutuhkan untuk bisa membuat materi dalam tulisan. Semakin banyak Anda membaca, maka akan semakin bagus kualitas tulisan Anda.

Tapi saya bahagia hari ini, karena saya bertemu dengan seorang lagi kawan baru yang suka dalam hal literasi. Baik itu membaca atau menulis. Bagi saya sudah sangat jarang seseorang dengan hobi membaca atau menulis hidup dalam era saat ini. Di mana semua orang seringkali hanya mengejar apa yang hanya terlihat saja, misal kecantikan fisik, dan kekayaan, tetapi lupa pada bagaimana mengupgrade keluasan berpikir dan imajinasi. Baik, anggaplah itu mungkin hanya pendapat saya saja. Tapi kenyataannya, kawan-kawan literasi saya berpendapat sama dan mereka semua, secara fisik sangat cantik. Jadi saya semakin bangga, bahwa banyak wanita cantik yang juga sangat pintar.

Menulis memang tidak menjadi pilihan setiap orang, karena konsekuensinya yang terasa lebih berat dibandingkan hanya sebagai seorang pembaca saja. Namun saya tetap memilih untuk menulis. Saya merasa bahwa dengan menulis saya bisa menjadi lebih bermanfaat. Baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Namun berjuang untuk bisa mengimbangkan menulis dengan membaca itu sangat tidak mudah. Itulah kenapa saya bersyukur bertemu kawan baru saya. Selain karena kebiasaan itu semakin sulit ditemukan, pertemuan ini juga seakan menjawab kegelisahan dalam diri saya yang menginginkan adanya partner dalam membaca untuk bisa saling menyemangati. Dan kini, sore ini, saya menemukannya. Biarlah saya saja yang menjadi penulis, tapi dalam hal membaca, ku ingin berkawan dengannya. Boleh, kan?

Ternging suara Tuhan di telinga, Bersyukurlah pada-Ku, maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untukmu.