Setitik Nila, Dalam Susu Sebelanga

“Pak, rumah Anda terbakar!!!” suara satpam perumahan terdengar dari ujung telepon, menghentikan laju mobilku ke arah kantor yang berjarak 45 menit dari rumah.

“APA??” ucapku kaget hingga hampir menabrak mobil di depan. Segera kupinggirkan mobil, dan kulanjutkan pembicaraan.

“Ya, halo. Terbakar??? Saya pulang sekarang!!” ucapku sambil memutar setir, dan kembali ke rumah.

Aku shock! Gelap. Kulajukan kendaraan dengan kecepatan lebih dari setengah bagian, bagai kesetanan. Berlari dengan sangat tergesa, hingga kubanting saat menutup pintu mobil yang kuparkir di luar kerumunan orang.

Ramai. Petugas pemadam kebakaran sudah sibuk di tengah usaha pemadaman. Para tetangga membantu. Sebagian mengambil air dari rumah-rumah, sigap menyalurkan dengan ember-ember maupun selang.

Aku terbelalak kaku. Gemetar hingga tak bisa kurasakan ujung kakiku. Sejenak terhuyung sebelum akhirnya ditangkap oleh seseorang.

“Pak, rumah bapak terbakar. Baru saja, tapi api sudah menjalar sedemikian cepatnya.” jelas Sarip, pemilik bengkel motor di seberang rumah.

“….” hanya kutengok wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa.

Dari kejauhan, kulihat api masih besar, melalap sebagian kamar depan. Asap sudah membubung tinggi dan tebal.

Kulihat ada batu cukup besar di bawah kakiku. Mau kuapakan?

Ingin rasanya kuhantamkan ia ke kepalaku. Mencoba mati, atau ingin menyadarkanku dari mimpi. Detik ini masih tak bisa kupercayai, tentang apa yang kualami.

Logikaku sebagai laki-laki bicara, “Gila kau, masa mau mati. Duduk saja dulu di situ, lepas sepatumu, dan bantu mereka memadamkan api itu.” Begitu sarannya.

Oke, akhirnya aku kembali ke dunia nyata. Duduk, dan berpikir. Apa yang sudah aku lakukan tadi, sehingga bisa terjadi kebakaran ini? Seingatku, tak ada aku menyalakan kompor pagi ini. setrika? Tidak mungkin … semua sudah kumatikan sebelum berangkat.

“Yaa Tuhan … Dona!!” tiba-tiba aku tersentak kaget, mengingat apa yang terjadi pada kucingku, di mana dia sekarang.

Segera aku berlari, menyibak kerumunann orang. Mendekati rumahku yang sebagian kamar depan sudah berwarna gelap menjadi arang.

“Dona! Dona!” panggilku ke sekeliling. Mencari tahu di manakah Dona kucingku bersembunyi. Rasa takut dan sedih menyelinap. Takut untuk kupikirkan, dan takut untuk kurasakan.

Hening. Tak ada suara Dona yang biasanya selalu Miaaww ketika kupanggil. Dona, sekitar empat hari lalu baru saja kuadopsi dari seorang kawan.

***

“Tak mampu mengurusnya. Kau bawa saja ia pulang,” katanya yang punya 24 ekor kucing peliharaan di rumahnya.

“Ya … tapi gimana nih makannya? Mau gak dia makan ikan asin campur nasi seperti kucing kampung itu?”

“Ikan asin? Mana dia mau. Aku kasih makan dia ikan tongkol, seminggu 3 kali. Selebihnya kasih makan yang di pet shop itu bisa. Yaa paling 200 ribu cukup lah kau untuk kasih makan dia seminggu. Muraah.” kata kawanku setengah membujuk.

“Haah, tongkol? Gaya juga ya kucing sekarang. Makanan di pet shop? Astaagaaa … makanan kucing pun sudah made in America punya.” Nada bicaraku yang kaget membuatnya tertawa.

“Ahh … malas ahh! Aku tak sempat juga mengurusnya.” tolakku saat itu, sambil menatap tingkah polah Dona yang naik-naik ke atas kursi ruang tamu.

“Kalo gitu, ya sudah. Nanti biar kujual saja. Aku punya sembilan nih yang jenisnya sama dengan Dona. Bosen.” jelas kawanku, sambil siap membagikan tongkol yang sudah dicampurnya dengan nasi.

Gila, pikirku. Rumah ini lebih mirip rumah kucing dibandingkan dengan rumah manusia. Pikiranku membaca dari apa yang kulihat dari lensa mata.

Kutatap Dona saat itu. Bulunya yang tebal,  berwarna coklat muda, halus, dan polos sejenak membuatku terkesima. Tampaknya ia kucing yang manis. Tak terlalu merepotkan, jika kurawat dia. Toh hanya satu ekor, tak terlalu pusing aku nantinya.

Sejenak pandanganku beralih ke sebagian kucing yang tiduran anteng di kotak-kotak sejenis kardus.

“Ehm … itu mereka tidurnya di situ ya? Kalo malam apakah pindah ke kandang, atau tidur di situ saja?” tanyaku. Dona tampak asik memainkan bola kuning dengan kaki depannya.

“Oh yaa … mereka suka tidur di situ. Dulunya aku masukkan kandang dan rumah-rumahan. Tapi mereka sepertinya lebih suka di situ. Ya sudah, kubiarkan.” Jawab kawanku sambil terus membagikan tongkol di piring ke-12. Kucing-kucing lain mengerumuni kakinya, meminta jatah. Padahal piring-piring sudah diisi dengan makanan, tetap saja mereka berebut meminta. Tapi aneh, Dona tak terlalu peduli dengan itu. Ia masih sibuk bermain bola.

Kulihat lagi Dona, kupikir-pikir lagi. Apakah sebaiknya memang kubawa ia pulang? Tampaknya aku akan suka. Dalam hati, aku menyepakati. Akhirnya kuputuskan untuk mengatakan “iya”.

***

“Pak, ini kucing Anda?” suara serak dari belakang membuyarkan lamunanku.

“Ohh … iya, Pak. Terima kasih, Pak. Saya mencarinya ke mana-mana.” Jawabku pada Pak Asep, tetangga dari rumah pojok sebelah kanan blokku.

Kulihat ke arah rumahku, tampaknya api sudah reda. Dalam kalutku, masih ada yang bisa kusyukuri. Yang terbakar hanya kamar depan. Artinya malam ini, aku masih bisa tidur di kamar belakang. Dan yang terpenting, Dona selamat, pikirku.

Hampir sepanjang sisa hari itu, aku dibantu oleh warga, membereskan bekas kebakaran. Kulihat ke arah jam dinding yang masih menggantung di atas ruang makan,

23.43 … hampir tengah malam.

Kucoba untuk membaringkan tubuhku yang sudah tak punya tenaga ini. Kuangkat Dona dari lantai, dan kunaikkan dia ke atas kasur tidur kami.

Ya, rumah kotak kardusnya memang sudah kubuang ke perapian dua hari lalu. Baunya sungguh tidak enak. Sepertinya itu bau sisa air kencing Dona dan bekas makanannya yang tercecer. Tapi sekarang, Dona punya tempat baru yang lebih nyaman. Tidur di kasur empuk, di ujung ranjang ini. Setiap malam ku taruh dia di situ. Agar hangat, begitu pikirku.

***

Rasa perutku tiba-tiba tak enak. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi di tengah malam buta. Aduhh, sungguh malas lah aku urusan begini. Beberapa kali, aku berusaha menepiskan rasa, menggeliat ke kiri, lalu ke kanan lagi. Tapi rasa dalam perut semakin tak kuasa untuk kutahan. Sedikit kubuka mata, mencari-cari ini sudah jam berapa. Apakah sudah pagi, atau masih lama aku menanti matahari?

Namun, mataku tiba-tiba terpaku pada sesuatu.

DONA. Berdiri di dekat jendela. Berdiri. Dia berdiri.

Apa itu di tangannya?? Ku coba memicingkan mata agar tampak lebih jelas apa yang kulihat.

Korek api..??

HAHHH!! KOREK API!

Sebelum ku tersadar sungguh, ku lihat Dona menggesekkan korek api itu, dan … menyala!

“DONA!” Ku panggil ia, keras!

Ia menoleh ke arahku, menyeringai dalam senyumnya yang manis tapi bengis. Tangannya justru dengan sengaja malah menyulutkan api itu, ke tirai warna putih kelabu yang menggantung.

“DONA!” Aku masih memanggilnya. Masih tak percaya pada apa yang ku lihat. Kali ini aku dibuat tak percaya juga pada apa yang kudengar.

“Rasakan, Kau! Sekarang kau akan tahu, bagaimana rasanya kehilangan rumahmu. Kenanganmu juga akan mati di sini, bersama ragamu.” Bisik Dona pelan, tapi masih sanggup kudengar.

Aku terdiam, kaku. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan.

Dona …. Hanya itu yang sanggup kubisikkan pada hatiku. Mataku hanya menatap kosong ketika Dona melompat keluar jendela, menembus gelapnya malam.

Api mulai merambat, menjalar membakar ruangan.

Aku masih juga terpaku di situ beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar harus keluar dari ruangan ini.

Segera kusingkapkan selimut yang masih membungkus kakiku untuk berlari ke arah pintu.

Klek … klek … klek …

Apa ini? Kenapa tak bisa kubuka?? Pintunya terkunci!

Wuzzzzz … Angin panas menyapu punggungku. Saat itulah baru aku tahu, rasanya dijemput maut yang selalu kutakuti sejak dulu.

Sekilas ingatanku melayang pada seorang kawan di sudut kota, pemilik Dona sebelumnya.

Advertisements

Read Aloud Week

Sekitar dua pekan yang lalu, di sekolah anak, sedang berlangsung Read Aloud Week. Read Aloud adalah sebuah aktivitas yang dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku. Berbeda dengan aktivitas mendongeng yang bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.

Untuk mendukung aktivitas Read Aloud, yang diartikan sebagai ‘Membaca dengan lantang’, maka sudah pasti satu hal yang paling dibutuhkan adalah buku. Dikarenakan, read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka buku pun menjadi ciri khasnya. Berbeda dengan mendongeng yang tidak perlu menghadirkan buku, karena yang terpenting adalah cara bercerita yang menarik dan menghibur.

Namun ternyata, tidak mudah juga bagi para orang tua untuk mempersiapkan hal ini. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua untuk persiapan Read Aloud. Antara lain :

  1. Pilih buku yang akan menarik perhatian

Banyak sekali buku-buku yang sering orang tua bacakan untuk anak. Namun untuk aktivitas Read Aloud, sebaiknya dipilih buku yang sesuai dengan usia anak, topik, kosakata, panjang cerita, pesan yang bermakna, dan ilustrasi yang membuat anak-anak lebih mudah tertarik. Para orang tua bisa memilih jenis buku yang sesuai bersama anak. Berikan pemahaman dan motivasi bahwa membaca adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan.

IMG_9954

  1. Lihat gambarnya, dan buatlah prediksi

Sebelum anda membaca keseluruhan isi buku, alangkah baiknya jika Anda melihat gambar-gambar dalam buku itu terlebih dahulu, tunjukkan pada anak, lalu meminta anak untuk menebak gambaran umum ceritanya. Saat membaca, anda harus menyampaikan informasi pada anak jika ada hal baru, perubahan, atau berbedaan dari prediksi cerita awal si anak.

IMG_9953

  1. Mulai membaca dengan judul, pengarang, dan ilustrator (jika tercantum) di cover buku

Jangan langsung menuju ke halaman pertama, dan mulai membaca. Tunjukkan pada anak-anak covernya, dan bacalah judulnya. Lakukan dengan perlahan dan jelas. Setelah itu, ceritakan singkat tentang pengarang atau ilustratornya, juga tentang gambaran umum buku yang akan dibaca.

IMG_0570

  1. Bacalah dengan ekspresif

Ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan ‘terlihat jelek atau bodoh’. Anak-anak menyukai suara yang lucu, dramatis, atau apapun yang digambarkan dalam alur cerita. Membaca dengan ekspresif tidak hanya membuat cerita terasa hidup dan nyata, tetapi juga mampu menyentuh perasaan mereka tentang pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Bisa juga menyertakan efek drama, misal tertawa, menangis, menjerit, berteriak, dan lain sebagainya untuk menggambarkan emosi dalam diri sang tokoh. Kadang, suara dan ekspresi saat membacakan, membuat anak-anak mampu mengingat dan lebih mudah memahami makna.

  1. Buatlah koneksi atau hubungan

Setelah membaca cerita, buatlah hubungan antara anak-anak, cerita yang disampaikan, dan kehidupan nyata. Misalnya, membuat sebuah diskusi tentang pesan apa yang ingin disampaikan buku tersebut. Apakah ada yang pernah mengalaminya? Jika mengalami, bagaimana rasanya? Jika ada teman yang mengalami masalah serupa, apakah kawan yang lain sudah membantu? Jika belum pernah mengalami, sangat bagus didiskusikan bersama tentang makna pesan dari buku, dan diarahkan untuk menjadi bekal solusi jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Itulah 5 hal yang perlu dipahami, dan bisa dilakukan orang tua sebelum membacakan buku dengan Read Aloud. Aktivitas Read Aloud sebenarnya sangat sederhana, hanya sekitar 30 menit setiap kali membaca. Namun, habit kecintaan pada buku dan membaca yang dipupuk selama (hanya) 30 menit dalam sekian tahun, akan membantu membangun pondasi dan minat yang kuat terhadap buku dan membaca di masa depannya.

Salam Literasi!