Universitas Kehidupan

Sungguh tepat momentum postingan pertama saya ini, yaitu disaat saya mulai tergabung di dalam sebuah komunitas perempuan, dengan visi dan misi untuk mendidik dan melatih ibu-ibu maupun calon ibu untuk menjadi ibu yang profesional. Komunitas tersebut dinamakan IIP (Institut Ibu Profesional), dan saya tergabung dalam kelompok IIP Surabaya.
Batin saya tergugah ketika diajukan pertanyaan mengenai ilmu, “Jurusan Ilmu apakah yang ingin saya tekuni di dalam Universitas Kehidupan ini?”. Hampir 20 tahun menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal, apakah membuat saya mampu menjawab pertanyaan ini? Saat ini status saya adalah menikah, ibu dari 1 orang putra, pernah 3 tahun bekerja sebelum akhirnya memutuskan untuk resign dan mengabdi sepenuhnya untuk keluarga. Maka sudah tentu, hal yg menarik bagi saya saat ini adalah yg berkaitan dengan keluarga. Jadi, jawaban pertanyaan itu sederhana. Sebenarnya ada 3 ‘jurusan’ ilmu besar yang masih berproses dan terus saya pelajari, yaitu Ilmu Tata Boga (Cooking), Pola Pengasuhan pada Anak (Parenting), dan Agama (Relegion). Namun untuk lebih fokusnya, maka saya pilih Jurusan Ilmu Pola Pengasuhan Anak (Parenting) sebagai prioritas.
Pertanyaan selanjutnya adalah, “Apa alasan terkuat yang saya miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?” Menilik dari keseharian saya sekarang, dimana memang saya sangat menyadari, bahwa ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anaknya, maka saya menilai sangat penting untuk mengetahui pola2 pengasuhan pada anak agar bisa diterapkan secara langsung. Karena hakikatnya tidak ada yang lebih dibanggakan seorang ayah dan ibu, selain melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari orang tuanya, serta bermanfaat bagi sesama serta agamanya.
Dalam proses mempelajari dan menekuni ilmu yang saya pilih tersebut, tentu ada beberapa hal penting yang selama ini menjadi langkah-langkah konkret/ strategi saya, antara lain :
1. Mengetahui, dan mengenali pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua kami (saya & suami) kepada kami.
2. Memilah dan menganalisa pola pengasuhan yang diterapkan orang tua kepada kami (saya & suami), untuk dilanjutkan kepada anak jika memang memiliki dampak positif, dimodifikasi (diubah) atau bahkan dihilangkan jika memiliki kekurangan/ dampak yang kurang baik.
3. Mempelajari karakter anak. Setiap anak adalah unik, jadi pola pengasuhan harus disesuaikan dengan sifat dan karakter anak. Dalam hal pembentukan karakter, orang tua sangat berperan penting dalam mendidik, tetapi ada karakter2 dasar anak yang memang sudah ada sejak lahir. Karakter tersebut harus dikenali orang tua, didukung, dikembangkan, serta diarahkan agar tetap berada di jalur yang seharusnya.
4. Mempelajari teori-teori pola pengasuhan secara keilmuan dengan banyak membaca, sharing, diskusi, bertanya, maupun mengikuti beberapa seminar parenting/ kegiatan parenting yang diselenggarakan. Tujuannya untuk membuka wawasan, menjadikannya sebagai wacana utk bekal dalam implementasinya, tetapi bukan untuk mengkerdilkan pemikiran bahwa satu-satunya hal yang benar adalah yang disampaikan dalam teori.
5. Tetap melakukan komunikasi dan diskusi dengan orang tua kami (saya & suami) untuk membahas dan meminta saran terkait dengan mendidik dan mengasuh anak.
6. Menjadi orang tua yang aktif dan proaktif dalam setiap kesempatan untuk mendukung perkembangan anak, terutama yg berkaitan dengan sosial kemasyarakatan baik di lingkungan tempat tinggal maupun di lingkungan sekolah anak. Bertujuan agar anak mampu secara bertahap mengembangkan kemampuan beradaptasi, bersosialisasi, percaya diri, dan mampu mengatasi masalah yang mungkin terjadi saat bermain bersama teman-temannya.
Terkait dengan langkah-langkah konkret/ strategi yang saya lakukan dalam proses menuntut ilmu yg saya inginkan tersebut, maka ada juga beberapa perubahan sikap yang saya perbaiki, antara lain :
1. Berusaha untuk mengosongkan pikiran agar mampu menyerap dan mempelajari lebih banyak tentang ilmu-ilmu baru maupun yg terkait dengan ilmu yg saya pelajari
2. Tidak menjadikan diri saya maupun suami sebagai standar dalam mendidik anak. karena proses perkembangan, minat maupun bakat setiap anak bisa berbeda dengan orang tuanya.
3. Memperbaiki komunikasi dengan anak maupun suami dalam hal-hal yang mungkin memiliki perbedaan pendapat dalam cara mendidik dan mengasuh demi kebaikan anak.
4. Menerima masukan dan mengakui kesalahan jika memang ada kekurangan dalam mendidik dan mengasuh anak.
Semoga hal-hal di atas selalu menjadi pengingat dan motivasi saya dalam mendidik dan mengasuh anak-anak saya, serta menjadi pengabdian pada keluarga yang diberkahi Allah SWT. Terima kasih untuk komunitas IIP Surabaya yang memfasilitasi dan memberikan bekal ilmu yang bermanfaat.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: