Tangan yang Menepuk Bahuku

Sebuah tangan menepuk bahuku. Ringan, mungkin karena setengah ragu, atau khawatir membuat kaget. Namun, selembut apapun, tepukan itu tetap saja membuyarkan lamunanku. Entah sudah sejak kapan aku termangu, terbenam dalam kilatan potret masa lalu yang lewat dalam pikirku.

“Sas …. ”

“Hai Pram. Sorry, aku membuatmu kaget. Ehm … tadinya aku juga tak begitu yakin ini kau. Namun, kuingat gelang tali yang kau pakai itu. Maaf ….”

“Kau … sedang di sini juga? Bulan madu?”

“Haha … lama rupanya kita tak saling kontak lagi. Aku … ehm … sudah bercerai setahun yang lalu. Kau sendiri? Mana istrimu?”

“Tidak. Aku sedang perjalanan dinas.”

“Oh. Oke. Ehm … kau, sampai kapan di sini?”

“Mungkin 3 hari lagi.”

“Baiklah.”

“…”

“…”

Melihatnya kembali. Di tempat yang pernah kami kunjungi bersama dulu, bukanlah hal yang ingin kualami. Tujuh tahun berlalu sejak cerita kami berakhir. Tak pernah ada kontak lagi. Tak pernah ada cerita lagi. Hingga kudengar dia telah menikah dengan seorang rekan kerjanya, lalu pindah ke Amerika. Begitu pun aku, yang juga kemudian menikah, dan punya anak.

Tujuh tahun. Di usia pernikahan yang kelima, aku merasa cukup bahagia. Istri dan dua anak, cukup membuatku menutup kisah lalu. Namun kini, perjalanan dinas membuatku harus mengunjungi lagi tempat ini. Sebuah tempat yang sungguh ingin kulupakan. Sungguh. Namun kenapa semakin ingin kulupakan, ingatan itu semakin menghujam kuat ke dasar bawah sadar? Nahasnya, aku melihat lagi wajahnya di tempat ini. Ketika aku sedang ingin membuang ingatanku tentangnya. Lewat sebuah tepukan di bahu. Tepukan dari tangannya yang dulu kujanjikan tak akan pernah kulepaskan. Tangannya yang lembut dan hangat.

“Hei, Sas ….”

Langkahnya berhenti.

“Tahukah kau, di mana tempat terbaik untuk menikmati kopi?”

Langkahnya masih terkunci. Diam. Kupakukan pandangku pada punggungnya. Mungkin kini pun aku harus menyaksikan kembali punggungnya melangkah pergi.

“Aku tahu, Pram. Kuyakin kau juga pasti masih ingat di mana itu.”

Tiba-tiba dia membalikkan badan. Menatapku lurus di hadapan. Melangkah ke arahku. Mendekat. Menggulirkan desir yang entah apa. Yang mungkin akan kusesali. Atau, kunikmati.

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: