Rahmi

Tejo tak akan tahu bagaimana rasanya menjadi Parman, ayahnya, jika saja ia tak bertemu dengan Rahmi. Sejak lima tahun lalu, Rahmi menjadi istri yang selalu mendorong Tejo untuk memperjuangkan hak-hak kaum tertindas di desa mereka.

Bagaimana tidak, tanah yang meraka huni saat ini, tak lama lagi akan diambil alih oleh pengusaha hotel. Beberapa kali Tejo dan Rahmi perlu bersitegang dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Undangan rembug yang dibalut serupa diskusi. Namun secara politis maksudnya hanya untuk merayu. Merayu agar para pemilik tanah rela menjual lahan mereka untuk dialih fungsikan.

Rahmi, perempuan biasa saja. Begitupun Tejo. Namun, Rahmi juga perempuan pemberani. Pejuang hak asasi. Sebuah semangat yang ia tularkan pada Tejo, suaminya.

Yang tak semua orang tahu, perjuangan melawan kekuasaan bukan sekedar kisah heroik. Bukan sekedar kisah semangat. Namun, bisa juga kisah kekalahan. Kisah kepiluan. Kisah sakit ketika seberapa pun kuatnya melawan, teriakan dalam demonstrasi, tak sekuat modal kapital yang kaum tuan miliki.

Kini Tejo sadar, betapa perjuangan ayahnya dulu sungguhlah luar biasa. Menjadi kuli tinta. Terkadang pergi berhari-hari, berminggu-minggu, mengunjungi wilayah-wilayah krisis keadilan, terlarang, berbatas aturan.

Tejo tertunduk. Air mata mulai sedikit menumpuk di bagian bawah mata. Tejo kecil hanya tahu jarang bertemu ayah. Jarang dipeluk ayah. Jarang diajak ngobrol dengan ayah. Tejo kecil hanya tahu, ayahnya pulang hanya untuk bekerja. Menumpuk puntung rokok, serta lembaran-lembaran kertas, catatan-catatan tangan, yang seringkali menjelma jadi istri ayah, mengalahkan ibunya. Ayahnya sering tertidur dalam lelah, di balik mesin ketik usang kamar kerjanya.

Tejo pun sempat membenci ayahnya. Bahkan berjanji, tak akan mau menjadi laki-laki seperti ayahnya ketika kelak dewasa. Tak mau pergi untuk bekerja, dan pulang pun untuk bekerja. Tejo tak mau nasib anaknya, sepertinya dirinya.

Namun, pernah sesekali ia dibuat bingung. Ketika ayah memanggilnya masuk. Menunjukkan mesin ketik, mengajarinya cara mengetik, menunjukkan buku-buku yang kata ayah, harus habis dibacanya ketika kelak dewasa.

Masih tertanam kuat pula, ketika ayah memegang kedua bahunya, seraya memandang tepat, menusuk jauh ke dalam matanya.

“Jo, kamu tahu apa itu pahlawan?”

“…”

“Pahlawan itu orang yang menang. Menang melawan dirinya sendiri. Dan memenangkan orang lain dalam pertarungan melawan ketidak adilan. Jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri, dan sesamamu.”

“Bagaimana caranya, Yah? Aku bukan presiden.”

“Kau tahu apa ini? Mesin ketik. Kau mungkin bukan presiden. Bahkan kau tak perlu jadi presiden untuk bisa jadi pahlawan. Kita juga mungkin tak punya cukup uang. Tak punya pistol. Tak punya tenaga. Tapi kita punya pikiran. Hiduplah dengan pikiranmu. Bersuaralah dalam diammu. Dalam kata-katamu. Jadilah pahlawan dengan caramu. Kau mengerti?”

Tejo mengangguk. Setengah mengerti. Namun ada satu hal yang Tejo sadari, ayahnya sangat sayang padanya.

Dua hari kemudian, ayahnya pergi lagi. Kata ibu, ayah harus pergi ke sebuah daerah, di pelosok, untuk menyelidiki kasus petani.

Bertahun lewat, Tejo menikah dengan Rahmi. Perempuan aktivis, yang membuat Tejo teringat ayahnya. Mungkin itu pula, yang membuat Tejo jatuh cinta.

Kini Tejo sadar, ada kekuatan yang lebih besar daripada teriakan. Kekuatan kata-kata. Kekuatan kata-kata mungkin hanya lewat tulisan. Tapi gaungnya menempuh jarak yang tak bisa dibayangkan. Menembus ruang demi ruang. Mendengung di telinga masing-masing orang. Mengalir dalam pikiran, mengoyak, mencabik, dan mengusik nurani.

Kini pun Tejo mengerti, kenapa ayahnya memilih menjadi seorang penulis. Juga ayahnya, yang hingga kini tak pernah kembali.

Tangerang, 13 Des 2018

Published by ardhist

Mari bertemu di Instagram @ruangtitikkoma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: