Biola Tak Berdawai

Gadis yang patah hati itu perlahan menghibur diri. Ia teringat kembali apa kata matahari tentang senja yang ia lalui. Relakan, ikhlaskan. Toh, semua pasti sudah menjadi catatan bagi Sang Pemilik Kehidupan.

Tiba-tiba ia teringat pada biola kesayangan. Teronggok pilu dalam kesendirian di pojok ruangan. Ingatannya pun melayang ke masa sebelumnya. Ketika ada seorang pria yang menyerahkan biola itu sebagai tanda cinta sepenuhnya. Datang di malam minggu, khas para remaja absen kehadiran ke rumah kekasihnya.

Laki-laki itu datang dengan sangat sopan. Mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Saat itu, keluarlah sang ibunda. Membukakan dengan pandangan penuh selidik, dan tanda tanya.

“Ya? Teman Cemara?” tanya ibunya. Matanya memandang lurus, menerobos ke dalam bola mata sang pemuda. Mencari jawab, atas arti hadirnya.

“Ya, tante. Saya Vibra, Vibrasi Moldiso, kawan Cemara. Apakah Cemara ada?” begitu tanyanya, sambil mengangguk, dan mengeratkan pegangan ke leher biola.

Pemuda itu memang membawa biola. Sebuah biola yang dibuat khusus dari perpaduan kayu Spruce dan Maple. 

Biola, sungguh hadiah yang cocok untuk Cemara. Semoga ia suka, pikir sang pria. 

“Baik, silakan masuk. Tunggu sebentar, saya panggil Cemara.” titah sang ibunda sambil membukakan pintu lebih lebar.

Sejenak kemudian, hadirlah Cemara ke ruangan tempat si pemuda menunggu. Wajahnya sangat ayu, tetapi tak terlihat senyum yang tersungging sedikit pun dari ujung bibir ayunya. Dengaan wajah datar, ia bertanya,

“Ya, Vibra. Sorry, ada perlu apa? Aku sedang menunggu seseorang. Maaf, mungkin aku tak bisa lama. Ada yang ingin kau sampaikan?” katanya.

Entah mengapa, kalimat itu lebih terdengar seperti mengusir bagi Vibra. Padahal ia masih ingin berlama-lama. Maka ia pun paham, dan tahu diri apa maksudnya.

“Maaf, Cemara. Mungkin kau tak akan suka. Tapi bolehkah aku memberikan biola ini sebagai hadiah untukmu?” jawab Vibra mengawali percakapan kaku yang menunggu untuk diakhiri.

“Biola ini kubuat dengan tanganku sendiri. Bagian atasnya menggunakan kayu Spruce yang kulubangi membentuk huruf “f”. Kupotong dengan cara quarter-swan. Cukup sulit untuk memotong kayu dengan sudut 60-90 derajat dari cincin pertumbuhan kayu tersebut. Bagian badan belakang dan rusuk, aku gunakan kayu Maple yang kupotong secara slab-cut. Lalu, pada lehernya kugunakan kayu Maple dan kutempelkan fingerboard yang terbuat dari kayu Ebony. Kupilih Ebony, karena ia lebih keras, lebih kuat, dan tahan untuk lama digunakan. Setelah itu kubuat detail-detail sound post, juga bass bar.”

Cemara memandangi biola coklat gelap metalik itu dengan mengeryitkan dahi. Tanpa kata, hanya terasa ingin segera menyelesaikan percakapan kali ini. Namun, lawan bicaranya seolah tak mengerti. Terus menjelaskan caranya membuat biola yang sedikit pun tak ia pahami.

“Setelah itu aku akan membuat neck, bridge, tailpiece dari kayu Ebony, pernambuco, boxwood, atau rosewood. Ebony dan pernambuco kubuat lebih tipis sehingga lebih ringan, meskipun tetap rentan pecah. Pernambuco bisa memperbaiki suara yang teredam sehingga lebih cerah dan fokus. Sedangkan ebony, menghangatkan suara yang tajam. Boxwood dan rosewood pun kugunakan karena sifatnya yang ringan.”

Senyum mengembang dari wajah Vibra. Tampaknya ia puas menjelaskan tentang biola hasil buatannya. Seraya itu, ia ulurkan kepada Cemara.

“Cemara, terimalah ini. Biola hasil buatanku. Sungguh, kubuat ia sepenuh hatiku. Kudatangkan semua bahannya pun dari negeri di atas awan. Kau pasti tak akan bisa temukan biola yang sama seperti buatanku.”

Cemara diam sejenak. Bertanya,

“Kenapa kau memberiku biola? Bukankah aku tak bisa bermain biola?”

“Tak apa. Kau simpan saja. Mungkin suatu hari kau ingin mendengar bunyinya, meskipun hanya menggeseknya dengan helai rambutmu.”

Cemara masih tak mengerti.

“Aku pamit dulu. Semoga kau suka hadiahku”

Ya, ia ingat kembali sekarang. Sejak cintanya berlabuh pada pria yang mengiriminya kiamat lewat tukang pos, nasib biola itu perlahan usang dan nyaris masuk tong sampah.

Diambilnya benda berdebu itu, entah kenapa kali ini ingin rasanya ia mendengar suara biola. Ia ingat, biola itu membuatnya tertarik belajar biola. Membuatnya mengikuti beberapa lomba, dan memenangkan beberapa hadiah. Namun itu berubah arah, ketika ia jatuh cinta pada pria pengirim kiamat itu. Pria yang menjadikannya sosok yang berbeda. Bahkan ia pun seperti tak mengenal dirinya. Tapi cinta memang selalu buta. Sudahlah …. pikirnya mengakhiri rumitnya perang di kepalanya.

Biola. Kuingin mendengar suaramu. Ayo kita bermain. Ia angkat biola itu agar lebih dekat dengannya.

Namun tiba-tiba ia tercekat, kaget. Biola merdu itu, kini tanpa dawai.

Advertisements

One thought on “Biola Tak Berdawai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s